2/01/2016

Kubangan Air Mata

          105 Comments   



Claudy menunggumu.

Ampas coklat hangat terbekas di atas bibirnya yang tipis dan merah muda. Cangkir plastik digenggamnya dengan erat dan pasrah. Pandangannya sendu, hanya tertuju pada satu titik di depannya. Entah batu yang tergeletak basah, atau rumput taman yang terlihat seperti baru selesai mandi.

Untuk ke delapan puluh satu kalinya, dia hanya berdiri di balkon dengan fikiran yang entah apa.

Kau-pria yang ditunggu-tunggu, selalu menemaninya kemana saja. Membelikan semua yang diinginkan. Mengabulkan permintaan-permintaan yang terkadang sengaja kalian berdua sembunyikan dariku. Mengecupnya sebelum tidur dan pergi dan pulang dan semua kedatangan-kepergian yang kau ciptakan.

Aroma lembut vanilla selalu memenuhi ruangan berukuran 5 x 5 dengan cat biru muda bermotif putih setiap kali kau berada disini. Rambutnya sengaja kau biarkan beraroma itu karena vanilla-lah favoritmu. Yang terjadi selanjutnya, tidak lain merupakan obrolan yang selalu membuat wajahnya berbinar. Pujian akan namanya yang memang berasal dari kata Cloud/awan, aksesoris langit kesukaanmu.

Seringkali aku berdiri beberapa langkah dari pintu, atau di jarak-yang-tak-mengundang-mata-kalian-untuk-bisa-melihatku. Mencuri-curi kesempatan jika ada. Pelan-pelan, kulihat matanya sayup karena kehangatan pelukanmu. Suara berat setengah berbisik kerap kali terdengar dari kamar. Mengiring angannya untuk masuk ke dunia mimpi. Tatapan teduhmu padanya seolah menyiratkan bahwa apapun akan kau lakukan agar tak ada sedih di wajah itu.

Hal ini, selalu menjadi pemandangan sederhana yang menciptakan aura khas.
Meninggalkan candu untuk kuperhatikan.

Tak jarang, aku menaruh iri meskipun dalam ke-tidak-pantasan.  Tak ada hak bagiku melarang kalian berharmonis ria. Aneh malah. Claudy merupakan sosok perempuan lain dalam kehidupanmu yang haram hukumnya untuk kucemburui.


***

Aku mengambil pena bertinta biru di atas meja kayu berwarna coklat tua di ruang kerjamu. Perpaduan klasik dan minimalis membaluti ruangan ini. Barisan buku tertata rapi layaknya pasukan pengetahuan di rak merangkap tembok. Aku memuntahkan kegelisahanku melalui helaan nafas panjang yang kulakukan, sesaat sebelum mencoreng angka lima belas dengan tinta biru itu di kalender yang kini menjadi barang paling kubenci.

Pertengahan November yang beku sejak kepergianmu secara mendadak.

Diluar hujan. Mungkin akan badai, persis seperti saat itu. Kau tahu, hampir semua orang memuja suasana ini. Romantis kata mereka, namun kejam anggapku. Kepergianmu melenyapkan kecintaanku pada rintik air yang turun dari langit itu.


Hujan, mustahil berkompromi dengan kenangan.


***

Rambut dan jaketmu basah. Sepatumu tidak kau tanggalkan sehingga meninggalkan bekas di lantai. Dengan tergesa-gesa kau kemasi barang-barang. Uap dari teh panas yang kusediakan beberapa saat sebelumnya sudah berhenti melayang dari mulut cangkir. Kecemasan menumpuk di raut wajahmu tanpa perlu kutanyakan terlebih dahulu.

Lebih dari dua puluh orang terjebak dalam kapal yang sedang dihantam badai ketika itu. Ombak yang tingginya berkali-kali lipat, tak menyiutkan nyalimu untuk pergi mengevakuasi mereka. Untuk pertama dan (mungkin) yang terakhir kalinya, jemarimu lekat tersemat di sela jari-jariku.

Kau memberiku tugas besar.
Menjaga perempuan itu.


Sekoci putih pun memulai perjalanannya dari dek kapal. Semua orang menganggapmu kehilangan akal sehat karena melayarkan benda tersebut di tengah-tengah lautan yang ditertawakan badai. Bersama kedua anggotamu, sekoci putih kau kemudikan menjauhi daratan.


***

Aku tak tahu lagi harus menggali alasan apa untuk membuatnya yakin akan kepulanganmu. Dari semua yang masuk akal, hingga rentetan bualan yang menurutku sangat jauh dari kata logis.

“Kapten sedang mencari pasukan untuk meramaikan ulang tahunmu nanti.”

Kali ini dia enggan percaya. Mungkin jenuh dengan kalimat yang itu-itu saja. Lama-kelamaan aku pun tak tega. Masa bodoh dengan kenyataan bahwa aku hanyalah orang yang kau dan (almarhum) istrimu percayakan untuk mengurus keluarga ini. Meskipun pada kenyataannya istrimu telah tiada, setidaknya jangan biarkan anak ini menambah gelar piatu.

“Percayalah. Kapten sedang mencari pasukan untuk meramaikan ulang tahunmu nanti.” Ulangku sambil menggenggam tangan mungilnya.

Claudy menggeleng. Kubangan air mata yang-katamu-tak-akan-kau-biarkan-mengalir-dari-pipinya akhirnya tumpah dari mata coklat perempuan ini.


Pulanglah..

Tolong..


Claudy menunggumu.



---

Tulisan ini terinspirasi dari film The Finest Hour yang barusan gue tonton dan salah satu video yang sukses bikin gue nangis. Harus nonton! Nih :



105 komentar:

  1. *meleleh*

    Apalagi pas tau gak sengaja keputer sinklod lo dibawah dev, sial. Pas lagi gerimis lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak baca aja lu :p

      Sinklod apanya silikon? -___-

      Hapus
    2. Baca dong, bagian endingnya, di kata "tolong" doang :))

      Jauhnya dep, silikon tuh yang itu tersa lantai di bangunan tingkat. Anak arsitek tau nih pasti. :P

      Hapus
    3. Si kambing :')

      Iya, beton bertulang, Lank. Iya.

      Hapus
  2. Gilaa, itu video keren amat. Bayangannya bisa bercerita, ampe bikin mata ini berkaca-kaca :')

    Itu cerita nya Cloudy, kasian bener... Ibu nya meninggal, trus bapak nya ilang. Malem ini bener2 baper ni jd nya -___-

    BalasHapus
  3. Gilaa, itu video keren amat. Bayangannya bisa bercerita, ampe bikin mata ini berkaca-kaca :')

    Itu cerita nya Cloudy, kasian bener... Ibu nya meninggal, trus bapak nya ilang. Malem ini bener2 baper ni jd nya -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kang. Hehehe.

      Kamu hebat baca semua :')

      Hapus
  4. claudy..

    ampun deh..

    kamu sekalinya bikin cerita yang beginian bikin jleb!

    Jadi si Aku itu pembantu atau apa, sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Hati masih sehat, Mif?

      Menurut dikau? :))

      Hapus
    2. Hahaha. Hati masih sehat, Mif?

      Menurut dikau? :))

      Hapus
  5. Deva lagi galau ni
    hujan hujan baca gini bawaanya baper

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan Deva, Ko. Ceritanya. Hehehe. :D

      Hapus
    2. Kalau galau verita donk
      haha

      Hapus
    3. Sejak kapan deva galau, Ko? :p

      Hapus
  6. Uhuk.
    Saya sensitif kalo ada ujan-ujan nya gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak cuma mata. Hati juga ikutan basah, ya, Dib?

      Hapus
  7. Duh keren ih neng. Ngena, baca ini jadi ikutan baper. Laaaah :'D

    BalasHapus
  8. Mungkin dia menunggu untuk yg ke 1001 x nya yaaa di balkon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu nunggu apa kisah nabi :((

      Hapus
    2. Hahahaha ... menunggu sesuatu yg tak pasti

      Hapus
  9. waktu mungkin bisa menyembuhkan apapun, kecuali memulihkannya seperti sebelum Dia menjadi bagian terbesar dalam ingatan. taruhan nyawa memang sudah risiko seorang prajurit.
    #savekapten

    BalasHapus
  10. bagus dev, dari liat video nari aja bisa bikin yang se-sendu ini :'
    liat juga deh, dev, video si James Arthur pas audisi di Britain got talent, kali aja bisa nginspirasi lu bikin cerita lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga, Di.
      James Arthur bukannya yang nyanyi Impossible? Gue suka denger lagu itu. Emang ada cerita lain ya?

      Hapus
    2. gatau gue, taunya juga james arthur yang ngikut audisi di british got talet itu, dev

      Hapus
    3. Iyaa. Gue juga tahunya dia yang nyanyi Impossible versi keren mampus. Entah itu pas audisi atau setelahnya. Yang jelas itu berkesan buat gue. Hahaha.

      Hapus
  11. Tuh kan, untung nyasar dimari kaga maleman, kaga ramah buat yang baperan nih. :D

    Salam kenal, sepertinya bisa duet nih kalo hobby cover lagu di SC :p

    Btw, ini domengnya bidadari magang, salah gaul benerrr -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukurlah, hai anak muda~

      Boleh. Yuk A'.

      Hahaha iya. Suka nongkrong di sepel kayangan.

      Hapus
  12. "Aroma vanilla dalam ruangan selalu terasa". Saya pasti betah berlama lama disana menikmati hari. mencecap kopi dengan bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang, kayaknya kamu salah kapra, deh. Yang bau vanilla itu rambut Claudy. Maksud saya. :))

      Hapus
  13. Maniiiiiiis kalimat-kalimatnya :') syukaaa dev :'

    Dan buat videonya :' aku udah nonton beberapa tahun lalu, tapi masih aja tetep bikin nangis itu video :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun, Akang Febry. :D

      Wah udah keduluan kamu, nih. Iyaaa. Ini juga tiep abis ngulang-ngulang baca tulisan diatas suka buka lagi videonya. Touchy :')

      Hapus
  14. Huah Such a sad touching story!Ceritanya keren. Pertama kali baca aku kira cerita ini diambil dari sudut pandang ibu cloudy, tapi pas baca di bagian "Masa bodoh dengan kenyataan bahwa aku hanyalah orang yang kau dan (almarhum) istrimu percayakan untuk mengurus keluarga ini" aku jadi suprised karna ternyata dari awal cerita p.o.v nya adalah orang yang merawat Cloudy. Duh, kasian banget Cloudy, rindu sama ayahnya yang berlayar di tengah badai ombak yang kabar kepulangannya pun masih samar-samar. Hiks (?)

    Wah, itu videonya keren banget, bisa bercerita sedetail gitu dlm waktu yang lumayan singkat lewat bayangan, kreatif! Sampe bikin jurinya nangis. Ck :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makasih banyak ya, Novi. You're a great reader bisa kuat baca sampe abis dan ngerti ceritanya. Suka, deh, sama pembaca yang menghargai tulisan kayak kamu gini.
      Hehehehe. Iya, sengaja nyimpen status si orang pertama buat di bagian-bagian terakhir biar beda.

      Attraction emang luar biasaaa :D

      Hapus
  15. Lagi baper sendirian, ketemu tulisan dan video yang bikin baper. Ya Tuhan, kayaknya hari ini aku memang dijadwalkan buat menguras air mata.

    Tulisannya rapi banget, bacanya betah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Pake jadwalnya gitu, ya, Neng.

      Makasih, geulis :))

      Hapus
  16. Bangsaaaattt! Kacamata gue basah. Bangsaaat Deva share video macam gini. Gue jadi meneteskan air mata. :')

    Awalnya rada bingung sama ceritanya. Setelah nonton video, anjaas. Keren euy! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini elap dulu, Yog. Pake kanebo. Seorang Yoga, macaci~

      Yosh. Makasih, mastah. \:D/

      Hapus
  17. Huwaaaaaaaaaaaa kereeeenn, Dev, kereeeennn!!! :")

    BalasHapus
  18. Videonya parah paahhh :'D bisa ya menghasilkan cerita yang wow gitu cuma dalam waktu singkat.

    "Romantis kata mereka, namun kejam anggapku. Kepergianmu melenyapkan kecintaanku pada rintik air yang turun dari langit itu." Ahh baper ahh :''))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Nisaa. :))

      Sini sini peluk dulu ({})

      Hapus
  19. Balasan
    1. Paling males kalo udah capek nulis terus komennya begini. Baca kagak, numpang promo iya. Sedih w.

      Hapus
  20. Sumpah, awalnya gue nggak ngerti sama tulisannya. Gue baca dua kali, masi juga nggak ngerti. Setelah nonton videonya, baru gue paham. Maafkeun otak gue yang setetes ini. Agak sulit untuk memahami fiksi-fiksi yang bagus dan hebat kayak gini. Hahaha.

    Eh, salam kenal (lagi) yak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujurmu mengalihkan duniaku. Hahaha.
      Makasih, ya. Udah luangin waktu buat baca dan juga nontonin videonya. Great!

      Yes, Sir! \:D/

      Hapus
  21. Coba kalo audisi cari bakat di Indo juga bisa sekeren ini dan bikin nangis audience .. hmm cuma bisa berandai-andai ..
    Pertama baca nggak ngeh sama ceritanya ka dev, gue pikir pria yang ditunggu itu cowoknya atau pacarnya .. stelah liat video dan baca lagi, o gitu toh ..
    Kasian Claudy.. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yah. Etapi di Indonesia mulai berkembang, kok, yang sejenis pencarian bakat ini. At least they're try :D

      Hehehe. Sengaja main sudut pandang, Zka.

      Hapus
  22. Haruskan aku menangis untuk Claudy ataukah untuk kamu? Tolong kasih tau... hehehehehe kalo kata ustadz mansyur, mantep dah ceritanya, mantep bikin kubangan air mata :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menangislah pada waktu-waktu yang korbankan untuk mereka yang tak memperdulikanmu. :b
      Yosh. Makasih, Aa. :))

      Hapus
  23. Sorry Dev baru bisa mampir lagi nih dimari hoho. Eh udah gapake kakak lagi nih, apa pake aja? hehe.

    Awalnya sih kurang begitu paham. Lambat laun udah mau sampai di bagian akhir cerita oh jadi gitu jalan ceritanya. Sepertinya kemarin baca kisah yang mirip semacam ini. Ditinggalin kekasih karena pergi berlayar/perang.
    Awalnya juga ga tertarik liat videonya. Eh begitu baca komentar komentarnya jadi penasaran.
    Scroll up lagi ke atas dan... OMG itu jurinya sampai nangis dan ngasih standing applause.
    Videonya emang bikin baper baper gimana gitu deh.

    Ceritanya ambil idenya dari video itu...that's pretty cool, Dev!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teu nanaon, A. Bebaaass. Sesukamu~

      Hehehe. Iya, nih. Belakangan emang kecanduan sama bacaan yang mengharu biru, jadinya tulisan-tulisan kayak gini suka mendadak brojol.
      Errr... Tapi itu bukan kekasih, loh, ya. Kayaknya kudu baca lagi, deh, A. Kamu salah kapra. Hahaha.

      Makasiiiih. \:D/

      Hapus
    2. Tiasa sunda? hahaha

      Gapapa dev. Ini inspiratif menurutku sih.
      Iya itu Ayahnyaaa hahaha. Maksudku kemarin baca hal serupa tapi dalam konteks kekasih #ngeles :p

      Sama sama loooh :D

      Hapus
    3. Lah kan emang asli sana, Akang.

      Alhamdulillah kalo kayak gitu mah.
      Ngeles aja Pokemon~

      Hapus
  24. Eneng ternyata bisa nulis sebagus ini, keren amat. :0

    BalasHapus
  25. Keren. Ada twist-nya. Aku nangkepnya si Cloudy LDR-an sama Bapaknya, trus tokoh 'aku' itu bukan ibunya Cloudy pas di akhir-akhir. Sialaaaaan. Kangen Bapak. Cepat pulang, Pak. Icha kangen :'(

    Belum bisa liat videonya, ntaran deh pas ketemu wifi. Tapi kalau liat dari komen-komennya sih udah pasti bikin sedih terharu gitu ya videonya. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dev, aku udah liat videonya. Keren banget. Itu kok mereka bisa ya ngebentuk bayangan jadi pesawat. Kereeeen. Dancenya mantap. Baguslah daripada pole dance. Dance di video itu bikin air mata meleleh, nafsu ngeluarin air mata. Bukannya nafsu yang lain. Duuuh :"

      Btw film The Finest Hours bagus nggak, Dev? Itu katanya dari kisah nyata ya? Trus lagu di video itu lagunya siapa, Dev? Bagus. Pengen download. *Emma Stone banyak nanya*

      Hapus
    2. Wah, Icha malah ekspektasinya beda, ya. Padahal sebenernya aku niatnya bikin pembaca mikir kalau si tokoh "Aku" ini yang lebih bikin penasaran. But then you found another surprise part. :D

      Hehehe, iya, Cha, aku juga suka mewek padahal udah sering ditonton videonya.

      Baguuus. Keren juga pengambilan gambarnya. Apalagi emang based on true story. Seru abis! :D
      Duh, aku kurang tau, sayang. Coba liet di komen youtubenya pasti ada.

      Hapus
  26. ternyata bisa nulis juga kirain cuma bisa jadi bidadari tanpa sayap aja "di pengorengan" _-_.


    ada unsur yg ngalir seperti air mata cinta dan sebuah genangan kenangan di sini :) lanjuttt dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerin dulu, tuh, typonya, Kang. Baru ngataiiiin. :p

      Masaaaaaa?

      Hapus
  27. wah cara km interpretasi video ke ceritanya keren. Emosional. Sayangnya aku belum nonton the finest hour. Anyway salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun, Neng. :)
      Nonton, gih. Seru, kok. :D
      Salam kenal juga ya.

      Hapus
  28. Lagi makan sambel pas baca ini. Entah gue netesin air mata (dan ingus) karena sambelnya, atau karena ceritanya. Hkz

    BalasHapus
  29. EH, dev. Gue gak dapet fellnya pas baca judulnya "kubangan" DUh... korelasinya sama tempat Pig gitu. :D Entah otak gue aja yg anti mainstream atau hati gue yg mulai menjadi kubangan air mata.

    Ini istilah seninya apa, ya? Membuat bentuk-bentuk dari bayangan. Keren banget. Tapi, gue ngerasa cara lo nulis kali ini bikin gue tersipu dev. Diksi yg sederhana bikin gue ngerasa apa yg lo bayangkan dalam cerita ini.


    *Nangis di pojokan.*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Gue emang make kata kubangan karena merujuk sama sesuatu yang menggenang. Bukan kubangan yang jorok-jorok, Bang. -_______-"

      Drama tari, mungkin(?)
      Alhamdulillah kalau bisa dimengerti, Bang. Hehehe.

      Hapus
  30. 'Hujan, mustahil berkompromi dengan kenangan'

    KATA-KATANYA BAGUS KAKK... ^^

    BalasHapus
  31. Bhangkay si deva..... baper nih baper... hati masih sehat, Dev? Bhahahak...
    Kubangan, genangan, kenangan.... halah :v

    Itu videonya kok keren banget yaa, gue download daripada gue tonton terus di yutub terus malah ketagihan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tumben banget baca postingan pake hati, Yu. Biasanya make dengkul juga. :((
      Sehat, kok, sehat.

      Hahaha iyaaa. Emang keren. :D

      Hapus
    2. Dengkul lagi sariawan ._.
      Bruakakaka.....

      Ya allah, segitunya dengkul gue ._.

      Hapus
  32. haizzz kamu abis makan apa sih bisa terinspirasi nulis cerita sedih kek gini? baper tauk! tanggung jawab ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makan semua sakit hatinya haters, Neng~

      Hapus
  33. aaak bikin baper. Lah kamu jago bikin cerita cerita gini gitu , jadi kan bergenre udah blogmu,
    Apalah aku yang cuma blogger tanpa genre. ihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga baru sekali, kok, Neng. :d
      Kamu blognya keren, huy~

      Hapus
  34. keren. sadap.. tumben2-an ngefiksi, ternyata di ilhami oleh britain got talent. ya begitulah, yang namanya hujan memang sulit berkompromi dengan kenangan. kalau udah hujan, selalu ada rasa bawa perasaan tentang segala kenangan. kalo gue sih britain got talent lebih suka yang dance light itu. apalah itu namanya... light balance kalau nggak salah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih. Otak lagi waras walaupun beberapa saat doang. \-,-/
      Absolutely right, Jepy~
      Wah gue belum tahu itu. Light balance kayak gimana, sih? ._____.

      Hapus
  35. Mulai bulan depan kamu berhenti jadi anak magang, ya.
    Jadi pegawai tetap.

    BalasHapus
  36. Aduuh dev. Salah banget nonton ginian pas lagi boker.

    Awalnya kirain lagi wawancara pemain UFC, taunya ah elaah basah mata. Merinding pas di akhir juri sama penonton standing applause.

    BalasHapus
  37. Deva anaknya baperan apa memang serius video clipnya bagus? :p
    Aku gak bisa nonton, lagi ngirit kuota :(

    BalasHapus
  38. Gak bisa berkata-kata apa lagi gue, Dev. Keren! Karya sebagus ini sangat disayangkan kalo ditaruh di blog. Saran gue, mending di post di Wattpad aja. Karyamu ini dilindungi oleh hak cipta kalo di sana. Kalo di blog sih... resikonya bakal banyak oknum nakal yang mengcopy-paste dan mengklaim hasil karya milik orang lain menjadi miliknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, ya, Reza. :))
      Wattpadm, gue pernah punya aplikasinya. Terus di un-install karena kurang mengerti caranya. Nanti, deh, di download lagi. :D

      Hapus
  39. terima kasih atas informasinya min, Salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas, apa yang terjadi sama mobilnya sampai-sampai bernasip malang? :(

      Hapus
  40. Teteh...


    ...
    ...
    Aku nggak ngerti maknanya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya jangan kebanyakan ngemil kenangan, Dek. :')

      Hapus
  41. Hujan hujan baca beginian plus nonton videonya, merupakan salah satu blunder minggu ini. Bikin baper, jadi sedih, terharu, dan nelangsa :')

    BalasHapus
  42. Artikel yang sangat menarik :D
    http://clayton88.blogspot.com | http://bit.ly/1sUU8dl | http://goo.gl/lNMX3D | http://goo.gl/cAQcMp | http://goo.gl/97Yn1s | http://goo.gl/tw2ZtP | http://goo.gl/RkuB4G | http://bit.ly/1Mwgw3U | http://bit.ly/23ABPpR |

    BalasHapus

Oit! Buru-buru amat. Sini ngasih komen dulu. Kali aja kita nyambung, gitu.

Copyright © Fredeva is designed by Fahrihira