5/08/2016

Bukan Cerita Perihal Bahagia

          35 Comments   
Kau menggeletakanku diatas sofa coklat kamarmu.

Ketukan pintu dan suara bel yang sesekali berbunyi masih saja menggelisahkanmu yang sedari tadi hanya mondar-mandir tanpa alasan. Kuku jari tangan pun selalu menjadi korban ketika kau dihadapkan dengan situasi seperti ini.

Hey, jika dia makhluk hidup, mungkin dia sudah berontak dan meneriakimu jutaan kali karena membuatnya rapuh dan rapuh.

Di dentingan ke-sembilan, kau pun berhenti. Dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, kau membukakan pintu untuk seseorang. Aku tak dapat memastikan siapa dia. Badan kursi yang lebih besar dari tubuhku  menghalangi pandanganku pada sosok yang membuatmu berdiri di depan pintu untuk waktu yang cukup lama.

Lalu, setelah berbicara banyak hal dengan lelaki itu (yang baru kuketahui setelah memastikan ekspresi wajahmu ketika memungutku kembali dari sofa), kau akhirnya menghempaskan tubuhmu ke kasur biru muda kesukaanmu. Untuk adegan selanjutnya, sudah bisa kupastikan kalau akan ada badai dari sudut mata bulatmu itu.

Benar saja.

Belum sempat air mata kemarinmu kering di badanku, hari ini pun aku kau jadikan pelampiasan dari semua kesedihan-kesedihan yang menggerogoti hatimu. Jika saja aku bernyawa, barangkali mereka---orang-orang yang membuatmu seperti ini, sudah kubuat wafat dengan cara yang sama.

Membuat mereka sayang sedalam-dalamnya, lalu pergi seenaknya tanpa perkara.
Pembunuhan paling halus yang pernah ada.

Kemudian kau berdiri. Menarik kepala kursi lalu menjatuhkan tubuhmu diatasnya. Masih denganku yang kau peluk di sisi kirimu, beberapa potongan kisah dari lembar foto yang kau pajang rapi di meja berhasil menyeruak perlahan ke dalam ingatanmu, membuatmu terdiam lalu menjatuhkan sungai kecil dari sudut mata. Lagi dan lagi.

Ketika itu kau terlihat sibuk mengutak-atik sesuatu di meja kerjamu. Dia, lelaki bertubuh tinggi dan bermata coklat teduh, diam-diam sudah berada di belakang punggungmu sambil membawakan sebuah kue tart stroberi lengkap dengan lilin yang menyala cantik diatasnya. Kau yang melihatnya dari pantulan bayangan di layar, langsung menoleh dan melontarkan senyum manis yang bahkan mungkin lebih manis dari kue di hadapanmu.

Kecupan hangat mendarat di rambutmu dalam hitungan yang tak kurang dari tiga detik. Bersamaan dengan ucapan bertambahnya usia, aku yang masih berada di dalam sebuah kotak berukuran sedang telah resmi diberikan kepadamu sebagai hadiah.

Dua bulan setelah kejutan kecil itu, hari-harimu dipenuhi cerita-cerita menyenangkan yang kau bagi bersamaku ketika hendak tidur. Matamu yang berbinar ketika menyebutkan namanya, usapan lembutmu padaku ketika sibuk mengandaikan sesuatu yang berkaitan dengan perasaannya padamu, dan lagi-lagi senyum itu, kecantikan paling mutlak yang selalu terpancar ketika bahagia menyelimuti hatimu.


Lalu hari itu terjadi.


Berminggu-minggu sudah jatah tidurmu terkuras untuk membuat suatu hal yang istimewa agar lelaki itu bahagia. Kau gunakan seluruh tenaga dan materi untuk memaksimalkan apa yang kau perjuangkan. 

Hingga di hari yang telah kau tunggu-tunggu, tepat di ulang tahun lelaki itu, perempuan lain telah lebih dulu menawarkan hati pada dia yang selalu menjadi alasan utamamu terjaga. Lelaki yang kau bangga-banggakan tanpa ampun, telah berlutut di hadapan perempuan lain sambil mengulurkan cincin permohonan untuk menikahinya.

Tetapi kau tak pergi. Kau ulurkan tangan dan memberi ucapan padanya meski gemetar batinmu di hari itu. Hari dimana bukan senyum yang kau bawa pulang, tapi tangis yang terus berulang. Bukan lagi cerita tentang jatuh cinta, tapi hati yang porak-poranda.

Kini, lelaki itu sering mendatangimu dengan cerita jatuh cintanya yang terus sama. Pada perempuan yang dulu menggantikan peranmu membahagiakannya. Hingga detik terakhir sebelum dia pulang, yang kau lakukan selalu seperti ini. Mengubur tangismu pada tubuhku. Boneka coklat tua pemberian lelaki yang kerap kali kau minta dalam setiap doa.


Berhentilah.


Kau, pecinta diam-diam yang menjadikanku rekan pengecut paling suram.



35 komentar:

  1. Nyess ishh bacanya.
    Deva jago juga tulisan fiksi gini selain tulisan-tulisan konyol yang lain.

    Aihh keren atulah si eneng mah. Udah jago MC, Nyanyik, Standup Comedy, Nulis Fiksi, Non Fiksi, jago gambar. Ampun kumplit lah..

    Sukses terus atulah neng deva..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Hahaha. Makasih Bang Cup. \:D/

      Atuhlah, dipuji gini berasa menang lotre. :')

      Aamiin. Akang juga ya^^

      Hapus
  2. Tidak habis fikir ada lelaki seperti itu Dev... Imajinasi macam apa ini!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di dunia nyata pasti ada, kok, Hab. :))

      Hapus
  3. ini yang bercerita boneka ya.
    Cinta diam-diam yang terpendam memungkinkan hati terluka dalam. Mau menyalahkan tapi cuma bisa diam sebab sejak awal tak terungkapkan. Akhirnya cuma bisa memasang senyum yang dipaksakan sebelum akhirnya air mata tumpah ruah saat sendirian. Pelik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ta. :)
      Wah, kalo lo udah puitis gini nyerah deh gue. Hahaha.

      Hapus
  4. Keren deh. Menyentuh banget!

    BalasHapus
  5. uuuuwww.
    Nasib pecinta diam-diam.
    Suka siiih tapi temen curhat doang. gimana dong. :(

    BalasHapus
  6. Deeuuhhh, Neng. Cerita jatuh cinta diam-diamnya keren. Aku sampe baca dua kali. :')

    Berhentilah. Entah, untuk apa. Wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Terima kasih, cantik. :*
      Biasanya yang ampe baca dua kali gitu lagi ngalamin soalnya. Iya gak sih. :p

      Berhenti ngarep, Riim.

      Hapus
  7. Sadeeess Deva..
    Tulisannya bagus!
    Sering2 aja nulis fiksi macem gini Dev.. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Hahaha. Makasih, Ta. \:D/
      Oit, aku mau main ke blog kamu tapi lupa kalo udah hijrah. Alamatnya apaaaa?

      Hapus
  8. sedih,baper. dasar secret admirer.. hiks

    BalasHapus
  9. Sudut pandangnya si boneka ya :')

    Gila ya kamu Dev :) berkembang banget nulisnya :D bisa berkomedi, bisa bikin syahdu pembaca juga :) lanjut atuh mang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, Feb. :)

      Aamiin. Makasih yaaa. :D

      Hapus
  10. Boom! The Deva, aku nyampe baca ini berkali-kali. Awalnya gitu, tengahnya gitu, endingnya gitu. ish. Sebel. -.- #lah
    Bentar, yang kecupan mendarat ituuu… cerita flashback bukan? Hehe aku bingung :(
    Ahhh cukup, cukup! Aku baper. :’)

    BalasHapus
  11. nice story kak Devaaa :D btw, itu gambarnya pas banget sama storynya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah, Aliando.

      Aliando Sya-lam.

      Hapus
    2. DEMI APA GUE DIKOMENIN ALIANDO KW SUPER.

      Hapus
    3. Aliando Syalam teh saha, Neng? :'v

      Hapus
  12. Endingnya nggak terkira. Kereeen. Feelnya dapet, Dev :(
    Aku terenyuh bacanya.

    Awalnya aku kira, si 'aku' dalam tulisan ini handphone. Heeheee. Ternyata boneka cokelat.
    Kereeen Dev. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalo kayak gitu, deh. Makasih sayaang :*

      Hahaha bukan. :D

      Hapus
  13. Rekan pengecut paling suram? Sadis...

    Inti tentang cinta diam2 ya dev... Keren juga, ni diksinya dapet banget. Cuman, kalo baca ini diiringi lagu baper, keknya makin dapet feelnya. :D

    Nice dev...

    BalasHapus
  14. Mencintai diam-diam itu emang enak banget. Seru aja. Gak perlu capek-capek berantem. hahahaha. tulisan bagus. menggetarkan sukma beneran ni

    BalasHapus
  15. gue rasa paragraf yang ini "Tetapi kau tak pergi sampe porak-poranda" yang bikin fiksinya jadi lebih keren, berasa ngaca baca ginian dev -_-

    BalasHapus

Oit! Buru-buru amat. Sini ngasih komen dulu. Kali aja kita nyambung, gitu.

Copyright © Fredeva is designed by Fahrihira