9/09/2016

Semoga Kau Ikut Tersenyum Ketika Mengenalnya

          22 Comments   
Aku berjalan melewati koridor sekolah sambil membaca salah satu buku karya Randall Munroe yang berjudul "What If". Hujan baru saja mengguyur kota beberapa saat yang lalu. Meninggalkan genangan air dimana-mana.

Berhubung masih gerimis, aku memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang ada di seberang lapangan basket sekolah sambil meneruskan membaca.


Suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang barangkali sedang menunggu jemputan atau menunggu gerimisnya reda. Oh iya, untuk kalian yang sedang membaca ini, barangkali kita mempunyai kesukaan yang sama perihal aroma tanah yang basah oleh hujan. Jika begitu, aku mau kau tahu kalau saat itu aku pun sedang tersenyum menghirup aromanya sambil sesekali melamun pada genangan air yang terlihat seperti sungai kecil di selokan di depanku.


Entah apa yang sedang kufikirkan saat itu, namun lamunanku buyar ketika melihat sebuah perahu kertas kecil yang sedang terombang di selokan karena setengah badannya sudah terkena air. Aku mengambilnya dan memperbaiki posisi perahu setengah rusak itu agar tak terbalik.


Penasaran, aku mencari tahu dari mana asal perahu tersebut. Berhubung ruangan yang paling dekat dari tempat dudukku adalah kelas Tiga Ilmu Alam Dua, aku pun menuju kelas tersebut dan membawa kembali perahu kertas yang tadi karena memang sudah tak bisa dilayarkan.


Suasana kelas itu sudah sangat sepi. Hanya ada seorang perempuan dengan sweater abu-abu yang terlihat sedang sibuk sendiri di bangku ketiga dari papan tulis. Dia sedang melipat-lipat kertas yang aku kira itu adalah calon perahu buatan lainnya.


“Kau salah melipatnya. Harusnya ke belakang, bukan ke samping begitu.” Kataku sambil menghampirinya.


Dia tersentak mendengar suaraku. Tampaknya kaget, karena setelah itu yang dia lakukan adalah mengelus dadanya seperti gesture orang yang mengatakan ‘sabar’ pada dirinya sendiri. Aku tertawa melihatnya.


“Terima kasih informasinya. Tetapi perahu ini memang sengaja kubuat mudah tenggelam.” Katanya kemudian.

“Eh? Kenapa?”

“Buka saja kertasnya.”


Aku mengibas-ngibaskan perahu kertas yang sudah basah tadi untuk mengeluarkan air yang masih tersisa, kemudian membukanya dengan hati-hati. Di kertas itu, ada beberapa tulisan yang  pudar karena luntur oleh air. Aku memicingkan mata dan membacanya satu per-satu.


Mantan”, “Orang-orang munafik”, “Tukang parkir yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuanku”, dan beberapa sosok lainnya yang aku pun merasa mereka itu harus dilenyapkan dari muka bumi.


“Boleh aku ikut membuatnya?” Tanyaku setelah tertawa membaca tulisan di kertas itu.

“Boleh. Tapi jangan disamakan, ya?”

“Loh? Memangnya kenapa?”

“Ini bukan contekan Ujian Nasional.” Jawabnya kemudian.


Perempuan itu lalu membereskan barang-barang di mejanya, sebelum akhirnya berlalu menuju koridor di depan kelas.


“Aku pulang, ya? Sudah dijemput.” Katanya sambil tersenyum.

“Dijemput siapa?” Tanyaku, agak ragu kalau-kalau dia punya pacar.

“Sopir angkot.” Jawabnya sambil melambai-lambaikan perahu kertas yang tadi dibuatnya sebelum dilayarkan ke selokan dan pergi.


Dari dalam kelas, aku tersenyum. Masih saja terfikirkan matanya yang bulat, kulitnya yang putih, pun rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Dan, oh, senyumnya nyaris membuatku amnesia kalau aku masih di bumi.


Lalu aku teringat sesuatu.


Nama! Aku belum sempat tahu namanya!


Aku berlari menyusuri koridor untuk mencarinya, tapi dia sudah tak ada. Jalannya cepat sekali. Batinku dalam hati.


Beruntung, aku menemukannya masih berdiri di depan gerbang sekolah dan baru saja hendak naik ke angkutan umum.  Tanpa basa-basi, aku nyaris berteriak dari jarak yang sudah cukup jauh untuk mengobrol. Syukurlah, dia masih sempat mendengarnya.


“Hey! Namamu siapa?” Tanyaku sambil mengatur nafas setelah capek berlari barusan.

Anehnya, perempuan itu tak menjawab pertanyaanku. Hanya mengacungkan jarinya keatas membentuk angka satu.


Belum sempat aku berbicara lagi, angkutan umum yang ditumpanginya sudah terlanjur pergi. Aku menyayangkan hal itu dan mendengus sedikit. Berhubung hujannya sudah reda, aku memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu, aku melewati koridor kelas perempuan barusan sambil berniat mengambil tas yang kutinggalkan di kursi kayu tempatku membaca tadi.


Tanpa sengaja, aku melihat sebuah perahu kertas yang baru kuingat kalau itu adalah perahu terakhir perempuan tadi sebelum dia pulang. Kuhampiri perahu itu, lalu kubuka kertasnya dengan hati-hati. Di dalamnya, adalah sebuah tulisan yang seketika membuat aku kaget saking tak percaya. Aku bahkan terduduk beberapa saat karena merasa hal itu nyaris mustahil terjadi.


Setelah membaca tulisan di kertas tadi, aku tak langsung pulang. Sengaja ku-ulur waktu dengan mengelilingi kota yang baru saja akan beranjak malam. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak membenci macetnya Ibu Kota. Malah senang. Aku bisa sampai dirumah sesuai dengan keinginanku.


Hal yang kulakukan ketika tiba dirumah pun agak berbeda dari biasanya. Kalau di hari-hari biasa aku langsung menghidupkan laptopku setelah melepas seragam , kini aku malah beranjak ke kamar mandi untuk mandi, kemudian makan malam lebih cepat.


Setelah merasa waktunya tepat, aku bergegas menuju kamar dan duduk bersandarkan bantal yang posisinya kubuat tegak. Mengambil ponsel yang batrainya sudah terlebih dahulu kupenuhkan, lalu memencet beberapa digit angka dari layar ponselku. Jantungku nyaris mau lepas seiring dengan bunyi panggilan yang masih mengudara.


Sampai tiba-tiba suara itu terdengar dari seberang. Suara yang sore tadi berhasil membuat aku percaya kalau di dunia ini tak ada yang tak mungkin.


“Halo?” Sapa perempuan itu.

“Langit?” Tanyaku sambil tersenyum, penuh akan bahagia.

“Iya. Ini siapa, ya?”

Aku diam sebentar, sebelum kemudian menjawabnya dengan pelan.


“Langit. Lelaki sore tadi yang menemani langit lain membuat perahu kertasnya.”




22 komentar:

  1. Awalnya sya mngira tokoh yg brcerita dlam tulisan diatas kmu dev, yaa prkiraan sya ini adalah pnglaman pribadi pnulisnya.

    Tpi pas akhirnya ekspektasi sya buyar mmbaca bahwa dia laki2

    dn perahu trakhir yg langit tnnggelamkan itu nama sama nmor hpnya ya dev? Spaya bisa dhubungin?

    Dri smua makna. Sya msih brtanya2 knapa langit wktu prgi naik angkot mengacungkan jari tlunjuknya? Apakah ada reinterpretasi dri smua itu? Atau hnya sbuah simbolis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan dong \^.^/

      Iyaa nomer hapenya. Tepat sekali.

      Si Langit (yang cewek) nunjuk kearah atas buat simbolis aja. Maksudnya dia lagi nunjukin kalo nama dia tuh Langit. Gitu :)

      Hapus
  2. Jadi langsung inget Perahu Kertas-nya Dewi Lestari dengan radar Neptunus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha gue juga tadinya mikir gitu :))

      Hapus
  3. Ampunnnnn lama bgt kagak main kesini, dv makin cihuy euy.....tulisannya. Gue maaih penasaran apa isi kertas yg di tinggalkan si lagit? Nomor telfonnya kah ? Atau nomor togel?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih yaaa :))
      Hahahaha. Iyaa, isinya nomer telepon sama namanyaa.

      Hapus
  4. Menarik sekali, sempat bingung di awal tapi terjawab semuanya dibagian akhir. Keren. :D

    BalasHapus
  5. gw suka nih baca tulisan kek gini, pendek tapi BERISI. keep rock in

    BalasHapus
  6. Sama kayak komentar pertama, awalnya aku kira sang penutur adalah kamu Dev, yhaaa sampai akhir ternyata salah, bikin penasaran.. Ternyata laki-laki tho yang jd akunya.

    Aku kira tadi bakal jadi sahabat karena sama2 cewek, ternyata malah beda klamin 😬

    Manteb bgt Dev ceritamu. Salut euy! Lima bintang dari tigalah ya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah. Itulah kenapa namanya fiksii. :D

      Gak dong~ masa cewek ama cewek~

      Thank youuu😊

      Hapus
  7. Mantap Teh Dev! Kusukaaaaa!!! :'D
    Melipat perahu secara "aneh" yang emang disengaja, itu pelampiasan yang keren. (?) :'D
    Btw itu nama tokoh dua-duanya Langit? Atau gimana sih? Kalo setangkapku gitu...
    Aku malah ngira waktu cewe angkat jari satu ke langit itu nandain nama dia Eka, atau Wahid, One... :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.
      Iyaa, that's correct.
      Ho'oh dua-duanya punya nama yang sama. :))
      Kok jadi wahid :"

      Hapus
  8. Deva :D kamu keren banget sekarang sumpah :D tulisanmu... Aku suka. Suka bangeet :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii Febrii. Makasih yaa, tulisanmu jauh lebih bagus dari punyaku :((

      Hapus
  9. isi kertasnya nomor telponnya si langit? dia jomblo atau pegimana dah, nyet?

    lu abis mabok apaan, keren gini tulisannya.
    kenapa tukang angkot, nyet? abang'' uber gitu kek, atau go jek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak. Bon belanjaan emaknye.

      Serah lu pao.

      Hapus
  10. Lah.. Cowok toh ternyata. Tapi romantis, Dev! *lope lope*

    BalasHapus
  11. Gue pikir juga awalnya ini cerita dari karakter cewek..

    Tapiternyata...

    "Langit..!"

    Langit mana?.

    Bersambung... 😂

    BalasHapus

Oit! Buru-buru amat. Sini ngasih komen dulu. Kali aja kita nyambung, gitu.

Copyright © Fredeva is designed by Fahrihira