12/22/2016

Aku Mau Kamu dan Bandung. Lagi.

          38 Comments   
Beberapa lampu kendaraan memantulkan cahayanya ke jalan raya. Si merah sedang menyala, membuat kita harus berhenti di sebuah perempatan menuju arah Dago.

Dua lelaki terlihat sedang menyeberang dengan sepatu roller, membuat semua pengendara yang sedang berhenti di lampu merah memperhatikan mereka.


“Aku dulu pernah memainkannya.” Kataku.

“Oh ya?”

“Iya. Itu susah sekali. Sepatunya berat.”


Dia tertawa kecil. Kita mengobrol sambil tetap memperhatikan dua lelaki tadi yang kini sudah berhasil menyeberang.


Lalu lampu hijau menyala. Kita pun melanjutkan perjalanan. Melewati jalan Dipati Ukur yang lumayan lengang. Bandung malam itu terasa hangat. Di belakangnya, aku memasukkan tanganku ke saku jaket yang dia kenakan sambil mengeratkan pelukan. Udara terasa lebih dingin selepas gerimis.


Sepanjang perjalanan, lagu HiVi! – Pelangi seringkali terdengar dari kendaraan yang lewat. Lagunya memang sedang hits kala itu. Sesekali aku menyanyi pelan sambil mengedarkan pandangan ke berbagai sudut Bandung. Mengikuti lirik yang satu per-satu dilantunkan oleh penyanyinya. Siapa namanya? Aku lupa.


Kemudian kita sampai.


Aku sedikit terbelalak. Beberapa bangunan dengan desain lamanya berhasil membuat seluruh organ tubuhku seolah bernostalgia dengan semua hal tentang Bandung pada tahun 2000-an, ketika Deva pada masa itu masih menetap dengan bahagia disana. Melewati masa kecilnya dengan hal-hal sederhana seperti susu alun-alun Kota Bandung dan Batagornya.


Di kiri dan kanan jalan berderet berbagai macam Factory Outlet. Mulai dari yang biasa hingga yang bangunannya sudah mengikuti trend desain zaman sekarang. Kita pun memilih parkir yang berada di ujung kawasan tersebut agar bisa menyusuri bangunan-bangunan dengan leluasa. Setelah melepas jaket, kita pun meninggalkan kendaraan untuk melihat-lihat.


“Ini bagus nggak?” Tanya dia setelah mencoba baju bermotif garis-garis.

“Hmm.” Aku memicingkan mata seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Bagus?”

“Aneh.”

“Nah, kan, bener. Aku juga ngerasa gitu.”

“Gitu gimana?”

“Ini kerahnya model begini. Aku kurang suka. Ntar kayak bencong.”


Aku tertawa. Dia cemberut sebelum akhirnya masuk lagi ke ruang ganti yang hanya ditutup oleh semacam kain tebal berwarna abu-abu. Aku yang tadinya duduk kemudian berdiri dan iseng memasukkan kepalaku di sela-sela kain tersebut agar bisa melihatnya.


“Aku boleh ngintip nggak?” Tanyaku.


Dia tertawa. Seperti tahu maksudku yang pura-pura bertanya padahal kepalaku sudah nongol duluan.


Setelah menyusuri rak-rak baju yang pada akhirnya tidak berhasil membuat kita membawa sesuatu dari sana, kita berdua akhirnya kembali ke Factory Outlet yang pertama kali kita datangi. Yang juga menjadi tempat kendaraan kita diparkir.


Suasana di dalam bangunan tersebut terlihat lebih modern dari yang sebelumnya. Meski tidak lebih besar (bangunan sebelumnya punya lantai dua), akan tetapi kesannya lebih luas. Entah, mungkin karena penataan pajangannya yang lebih sedikit.


Dia masih memperhatikan baju dan celana yang ada di gantungan. Memasuki beberapa ruangan yang memang menjejelkan pakaian untuk laki-laki.


“Kamu mau apa?” Tanyanya padaku yang sejak tadi hanya mengikutinya mencari keperluannya.

“Nggak ada.” Jawabku.

“Serius nggak mau?”

“Iya.”


Sebenarnya, aku bukannya tidak mau sesuatu dari sana. Semuanya bagus. Tetapi aku yakin yang paling aku mau tidak ada disana. Lebih tepatnya, tidak dijual.


Aku mau dia.


Lagipula, dia memang sudah kepunyaanku.


Akhirnya kita keluar. Berjalan kaki lagi menyusuri Bandung yang terasa lebih menyenangkan malam itu. Beriringan. Dibawah lampu jalan yang berwarna putih (atau kuning?). Melewati berbagai aroma masakan seperti sate, batagor, kebab, maupun martabak. Dengan ‘dia’ku yang sesekali jahil menghentakkan kakinya diatas penutup lubang selokan (dia tahu aku suka parno dan akan kesal jika dia berdiri diatas situ).


Ah, Bandung, terima kasih sudah menjadi latar tempat yang selalu membetahkan.
Tolong tetap menyenangkan sampai aku kembali lagi.
Menjadikanmu saksi cerita lagi.




38 komentar:

  1. kerenn banget bahasanya, udah cocok tuh dijadiin novel !

    BalasHapus
  2. aku suka kalimat yang ini kak.
    "Dibawah lampu jalan yang berwarna putih (atau kuning?)"
    lucu-lucu gimana gitu.

    BalasHapus
  3. Anyirrr bisa sampe kebawa cerita gitu, di beberapa bagian kaya njulurin kepala ngintip, gue bener-bener bayangin loh dev. Keren tulisan lo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Lank!

      (komenan lo tumben waras btw)

      Hapus
  4. kemaren sempet buka blognya deva nggak bisa masa. ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemaren emang doamainnya abis dek~

      Hapus
  5. Sekarang deva gaya penulisanya udah mendayu dayu ntaps

    BalasHapus
  6. Kapan ini dijadiin novel ? hehe.Gaya bahasa mu , gue suka .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada penerbit yang khilaf nerbitin ini :(

      Hapus
  7. Udah cokcok lah jadi pembuat novel :D

    BalasHapus
  8. baca kata per katanya seolah saya ge ikut berada di Jl Tamansari Bandung berduaan berangkat kuliah ke kampus yang logonya gajah duduk tea deh ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Emang sengaja dibuat seperti itu, Akang.
      Nuhun nya. :))

      Hapus
  9. Kalau Deva sudah nulis begini, saya jadi ingin beringsut dipojokan. Ehehehe

    BalasHapus
  10. Hii. Devaa. tukeran link yuk. Linkmu sudah saya pasang di http://detsvirgie.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Virgie. Sudah yaa. Silahkan di cek di email juga^^

      Hapus
  11. Ditunggu Tulisan Lainnya Ya...


    Semangat Berkarya, Sukses Selalu

    BalasHapus
  12. Uuhh, jadi ikut terbawa suasana, nih. Keren. Semoga langgeng ya, Dev. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Makasih banyak, ya, Rimikuu. :*

      Hapus
  13. Kebawa suasananya. Tapi malah ngebayanginnya Jogja, karena lebih sering kesana.

    "Dengan ‘dia’ku" hahaha, ntaps kata-katanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiih. Jogja :3

      Heheheh. Nuhun neng~

      Hapus
  14. Aaaakh, anjir Deva nih mah :D manis banget tulisannya :) sweet abis :3

    BalasHapus
  15. waaah aku suka nih, pertama kali mampir di postingan kamu dan aku mulai suka sama isi dari blog kamu


    it's very nice :)

    BalasHapus
  16. ini tulisan deva???omaigottttt

    lanjutin lah. sukse selalu cuyungkuu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjutin pake apaan bang? Nilucuni..

      Hapus

Oit! Buru-buru amat. Sini ngasih komen dulu. Kali aja kita nyambung, gitu.

Copyright © Fredeva is designed by Fahrihira