4/02/2017

HIJRAH KAYAKNYA

          11 Comments   
Sejak dulu, gue percaya kalau hal buruk datang bersamaan dengan hal yang baik. Begitupun sebaliknya.


Sama hal-nya dengan yang lagi gua alamin sekarang. Berhubung perkuliahan gue ada terjadi sedikit masalah (sedikit matalu horizontal!), gue jadi mempunyai banyak waktu luang, sembari menunggu jadwal kuliah yang baru akan dimulai kembali pada bulan April.


Untuk itu, demi menciptakan liburan agar senantiasa berfaedah, gue pun mengisi kegiatan dengan foto dan membuat video bersama rekan-rekan Explore Klik Pots. Singkat cerita, awalnya gue diajak oleh salah seorang teman untuk hunting foto. Sesampainya di lokasi, ternyata ada Videographernya juga.


Berhubung sayang kalau hanya di upload di Instagram, gue pun berinisiatif untuk meng-uploadnya ke Youtube. Hitung-hitung biar channel gue juga ada isinya. Dan yak, silahkan ditonton buat kalian yang gabut, atau pengen boros kuota. Videonya gak lama, kok. Pun gak terlalu nguras kuota soalnya durasinya pendek-pendek aja. Mau komen juga gapapa. Syukur-syukur subscribe. Ekekekeke.


Here it is~








12/22/2016

Aku Mau Kamu dan Bandung. Lagi.

          35 Comments   
Beberapa lampu kendaraan memantulkan cahayanya ke jalan raya. Si merah sedang menyala, membuat kita harus berhenti di sebuah perempatan menuju arah Dago.

Dua lelaki terlihat sedang menyeberang dengan sepatu roller, membuat semua pengendara yang sedang berhenti di lampu merah memperhatikan mereka.


“Aku dulu pernah memainkannya.” Kataku.

“Oh ya?”

“Iya. Itu susah sekali. Sepatunya berat.”


Dia tertawa kecil. Kita mengobrol sambil tetap memperhatikan dua lelaki tadi yang kini sudah berhasil menyeberang.


Lalu lampu hijau menyala. Kita pun melanjutkan perjalanan. Melewati jalan Dipati Ukur yang lumayan lengang. Bandung malam itu terasa hangat. Di belakangnya, aku memasukkan tanganku ke saku jaket yang dia kenakan sambil mengeratkan pelukan. Udara terasa lebih dingin selepas gerimis.


Sepanjang perjalanan, lagu HiVi! – Pelangi seringkali terdengar dari kendaraan yang lewat. Lagunya memang sedang hits kala itu. Sesekali aku menyanyi pelan sambil mengedarkan pandangan ke berbagai sudut Bandung. Mengikuti lirik yang satu per-satu dilantunkan oleh penyanyinya. Siapa namanya? Aku lupa.


Kemudian kita sampai.


Aku sedikit terbelalak. Beberapa bangunan dengan desain lamanya berhasil membuat seluruh organ tubuhku seolah bernostalgia dengan semua hal tentang Bandung pada tahun 2000-an, ketika Deva pada masa itu masih menetap dengan bahagia disana. Melewati masa kecilnya dengan hal-hal sederhana seperti susu alun-alun Kota Bandung dan Batagornya.


Di kiri dan kanan jalan berderet berbagai macam Factory Outlet. Mulai dari yang biasa hingga yang bangunannya sudah mengikuti trend desain zaman sekarang. Kita pun memilih parkir yang berada di ujung kawasan tersebut agar bisa menyusuri bangunan-bangunan dengan leluasa. Setelah melepas jaket, kita pun meninggalkan kendaraan untuk melihat-lihat.


“Ini bagus nggak?” Tanya dia setelah mencoba baju bermotif garis-garis.

“Hmm.” Aku memicingkan mata seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Bagus?”

“Aneh.”

“Nah, kan, bener. Aku juga ngerasa gitu.”

“Gitu gimana?”

“Ini kerahnya model begini. Aku kurang suka. Ntar kayak bencong.”


Aku tertawa. Dia cemberut sebelum akhirnya masuk lagi ke ruang ganti yang hanya ditutup oleh semacam kain tebal berwarna abu-abu. Aku yang tadinya duduk kemudian berdiri dan iseng memasukkan kepalaku di sela-sela kain tersebut agar bisa melihatnya.


“Aku boleh ngintip nggak?” Tanyaku.


Dia tertawa. Seperti tahu maksudku yang pura-pura bertanya padahal kepalaku sudah nongol duluan.


Setelah menyusuri rak-rak baju yang pada akhirnya tidak berhasil membuat kita membawa sesuatu dari sana, kita berdua akhirnya kembali ke Factory Outlet yang pertama kali kita datangi. Yang juga menjadi tempat kendaraan kita diparkir.


Suasana di dalam bangunan tersebut terlihat lebih modern dari yang sebelumnya. Meski tidak lebih besar (bangunan sebelumnya punya lantai dua), akan tetapi kesannya lebih luas. Entah, mungkin karena penataan pajangannya yang lebih sedikit.


Dia masih memperhatikan baju dan celana yang ada di gantungan. Memasuki beberapa ruangan yang memang menjejelkan pakaian untuk laki-laki.


“Kamu mau apa?” Tanyanya padaku yang sejak tadi hanya mengikutinya mencari keperluannya.

“Nggak ada.” Jawabku.

“Serius nggak mau?”

“Iya.”


Sebenarnya, aku bukannya tidak mau sesuatu dari sana. Semuanya bagus. Tetapi aku yakin yang paling aku mau tidak ada disana. Lebih tepatnya, tidak dijual.


Aku mau dia.


Lagipula, dia memang sudah kepunyaanku.


Akhirnya kita keluar. Berjalan kaki lagi menyusuri Bandung yang terasa lebih menyenangkan malam itu. Beriringan. Dibawah lampu jalan yang berwarna putih (atau kuning?). Melewati berbagai aroma masakan seperti sate, batagor, kebab, maupun martabak. Dengan ‘dia’ku yang sesekali jahil menghentakkan kakinya diatas penutup lubang selokan (dia tahu aku suka parno dan akan kesal jika dia berdiri diatas situ).


Ah, Bandung, terima kasih sudah menjadi latar tempat yang selalu membetahkan.
Tolong tetap menyenangkan sampai aku kembali lagi.
Menjadikanmu saksi cerita lagi.




11/13/2016

DIGREBEG VLOGGER SINTING!

          43 Comments   
Gue turun dari pesawat dengan keadaan lemes. Ini semua gara-gara nggak tidur semaleman karena takut ketinggalan pesawat.


Sesampainya di Jakarta, gue langsung ngabarin Didi. Dia mesenin Uber buat nganterin ke hotel tempat gue nginep beberapa hari di Tangerang. Kebetulan, Didi nggak bisa jemput di Bandara karena sedang sibuk ngurusin akad nikahnya Bang Arief dan Kak Tipang.


Setelah check-in, gue harus nunggu sampai jam satu siang karena kamar masih full dan belum diberesin. Sambil menunggu, gue ke Giant yang terletak persis di sebelah hotel. Makan bentar, lalu ngabisin waktu di Timezone sambil main Pump sampai kira-kira pukul dua belas siang.


Untungnya, ketika balik ke hotel ternyata udah ada kamar yang siap ditempati. Tanpa menunggu lama, gue pun masuk dan langsung bersih-bersih. Baru juga mau merem, hape gue berisik dengan notif LINE dari grup Blogger. Katanya, Karina dan Salam mau main ke tempat gue.


“Salam sama gue mau nge-grebeg bidadari magang ntar sore.” Kata Karina di chat.


Beberapa jam kemudian, Karin nge-chat lagi untuk memberitahukan kalau dia sudah dijalan menuju tempat gue. Salam nggak jadi ikut karena lebih memilih ditraktir Yoga di Palmerah. 


Kampret emang lu, Lam.


Tanpa menunggu lama, Karin sudah berada di depan pintu kamar gue. Pas dibuka, gue kaget karena dia sambil megang kamera.


“Gue beneran di grebeg, anjir!” Kata gue ke Karin.

“Haiii. Akhirnya kita ketemu juga sama Bidadari Magang, guys!” Karin ngomong ke kameranya sendiri.

“Eh lo ngapain? Nge-vlog?” Tanya gue.


Karin cuma cengengesan sambil tetap memegang kameranya. Dia datang ke tempat gue sebenarnya sambil nunggu kelas doang. Karena pagi ampe siang kerja, Karin ngambil kelas malem di kampusnya.


Yang kita lakukan setelah itu hanyalah ngobrol sambil ngemil. Yang baru gue sadari adalah, ternyata tu anak lebih rame dari yang gue kenal di sosmed. Karin juga nggak berhenti ketawa setiap kali gue ngomong sesuatu. Begitupun gue yang gak berhenti ketawa tiep kali dia ngomong dengan akhiran ‘Panjul!’.


Saking serunya ngobrol berdua, tanpa sadar waktu udah nunjukin pukul enam sore. Which is, Karin harus pergi ngampus. Gue sempet nge-rengek buat nahan dia sambil gue nungguin Didi, tapi Karin tetep harus pergi karena ada kelas. Huft.


Akhirnya kita pun turun ke lobby. Sambil jalan ke arah parkiran, Karin nge-rekomendasiin tempat-tempat asik buat nongkrong yang deket dari hotel karena dia tahu selepas dia pergi gue pasti gabut.


“Kayaknya di depan hotel lo ada cafe-cafe asik gitu, deh. Coba lu kesana.” Kata Karin sambil menggunakan jaketnya.

“Nggak, ah. Sendirian ini. Ngapain.”

“Ya tadi lu nanya enaknya kemana, Panjul!”

“Udah malem. Mau nunggu Didi aja.”

“Oh, kalau nggak ke Aeon apa Summarecon Mall aja. Deket banget dari sini. Tinggal lurus, nyampe.”

“Iye.”


Setelah bersiap-siap, Karin pun pamit. Gue disuruh langsung masuk aja, nggak perlu ikut ke parkiran. Entah kenapa setelah Karin nggak ada, gue sedih dan kesepian lagi. Pas masuk kamar apalagi, suasana yang tadinya rame ama ketawa (padahal cuma kita berdua), eh tiba-tiba hening lagi.
Intinya, ketemu Karin waktu itu mengingatkan gue lagi pada pepatah mainstream yang berbunyi,


Don’t judge a book by it’s cover”.


Buktinya, tuh, Karin. Di sosmed pendiem, aslinya, SINTING!




P.S.: Dear Karina Rahmania, anak mata ponsel yang hitz abez, makasih banyak udah mau nyempetin diri nge-ramein dan nyamperin gue yang tak tergantikan ini. Kamu adalah pembasmi cemilan terhebat yang pernah kukenal. Mmuach.


P.S. lagi: VLOG-nya  bisa kalian tagih ke anak ini!

10/09/2016

Ketemu Yang Bikin Ogah Untuk Pulang

          121 Comments   
Dian kampret.

Sumpah.

Malam minggu kemaren ketika sedang menunggu film dimulai (dari pagi kerjaan gue cuma ngulet di kasur, bosen, akhirnya mutusin buat nonton), di Twitter tiba-tiba muncul notifikasi dari Deya. Deya nge-mention lengkap dengan sebuah capture-an blog yang ternyata adalah tulisan dari Dian.


Penasaran, gue pun membuka link tersebut.


Nggak nyampe lima menit, mata gue perih. Gue manyun.
Kangen sama hari itu.

Hari dimana Jakarta terasa lebih seru dari biasanya.


---


Siang itu mendung. Gue masih gegoleran di kasur sambil mainan hape. Sesekali nge-cek grup di LINE. Setelah beberapa hari yang lalu disamperin Karina di hotel dan meet-up bertiga sama Bang Ucup feat. Teh Feby di Aeon Mall Tangerang, gue pun berniat untuk ketemu temen-temen blogger lainnya di Jakarta.


Pulang kampung kali ini sebenernya demi ikut serta memeriahkan nikahan Bang Arief Muhammad dan Kak Tiara Pangestika, doang. Iya, Vlogger yang manager-nya tiba-tiba jadi pacar gue. Gils banget, kan. Nah, berhubung di Jakarta lumayan lama, gue pun menggunakan kesempatan tersebut untuk bertemu teman-teman lama maupun yang dari dunia maya.


Sok artis banget, kan, gue?


Sekitar pukul dua siang, gue pun menuju Sarinah Plaza dengan perasaan deg-degan. Selain karena khawatir kalau bakal canggung, gue juga dapat kabar kalau mereka yang udah duluan nyampe Monas (usulan pertama dari temen-temen sebenernya di Monas, tapi karena cuaca tidak mendukung, gue dan Bang Ucup pun nyaranin buat pindah destinasi ke Sarinah Plaza) sedang nyari Adibah karena dia tersesat. Mampus, lu, Dev. Gara-gara lu anak orang ilang.


Ini kenapa cahayanya lebay banget padahal mendung.


Setelah nyampe Sarinah, ternyata gue adalah peserta meet up pertama yang datang. Sedangkan yang lainnya masih dalam perjalanan (katanya). Hal ini membuat gue memutuskan untuk ke toilet sebentar.

 
“Permisi, Mbak. Toilet sebelah mana, ya?” Tanya gue ke salah-dua karyawan yang lagi nongkrong di sebelah keranjang baju.


“Oh, Mbak tinggal naik satu lantai lagi dari sini.” Jawab mereka berdua nyaris bersamaan.


Setelah naik eskalator ke lantai dua, gue masih tidak menemukan tanda-tanda adanya toilet. Lagi-lagi, gue bertanya ke Mbak karyawan di lantai tersebut, yang jawabannya pun sama, “Mbak tinggal naik satu lantai lagi dari sini.”.


Gituuu terus sampai tahu-tahu udah lantai paling atas.
Sambil ngos-ngosan gue bergumam.


SATU LANTAI PALELU MELEDAK!!


Tidak hanya itu, baru juga pipis setetes, tiba-tiba ada panggilan telepon di LINE dari Bang Ucup yang mengabarkan kalau dia udah nyampe di Mekdi Sarinah. Setelah panggilan ditutup, gue tidak langsung turun kebawah. Mengingat kaki gue yang masih pegel abis tawaf nyari toilet.


“Lu dimana, dah?” Tanya gue ketika sudah berada di depan pintu Mekdi.
“Di toilet. Ini lagi turun ke bawah.”
“Bentar, lu di toilet mana, deh? Gue juga abis dari toilet.”
“Ya toilet Mekdi, lah. Kan ada di lantai dua.”


YA TOILET MEKDI, LAH. KAN ADA DI LANTAI DUA.

KAN ADA DI LANTAI DUA..

LANTAI DUA..

(Emang sengaja diulang biar lebih dapet)

BANGCADDD!


Saat itu juga, gue pengen mengutuk Mbak-Mbak karyawan yang tadi jadi gunting kuku.


Kurang lebih setengah jam menunggu, teman-teman yang lain pun akhirnya sampai. Lengkap dengan Adibah (Syukurlah gue nggak jadi dituntut karena menjadi penyebab anak orang hilang di Monas).


Saat itu sudah ada gue, Bang Ucup, Yoga, Darma, Deya, Adibah dan Dian. Berhubung di Mekdi kursinya nggak cukup, kita pun memutuskan untuk pindah ke KFC yang letaknya bersebelahan dengan gedung tersebut.


Tak lama kemudian, Imas, Bang Aziz dengan seorang temannya, serta Bang Kay ikutan nyusul ke KFC. Membuat obrolan dan suasana semakin ramai. Rasanya menyenangkan ketika akhirnya bisa mengobrol langsung dengan orang-orang yang selama ini hanya berinteraksi dengan kita di Sosial Media.


Masing-masing dari mereka punya keunikan tersendiri. Yoga yang selama ini gue kenal cerewet di chat, ternyata aslinya pendiem. Bang Ucup yang jarang banget nimbrung karena sibuk kerja, ternyata aslinya Nauzubillah hi minzalik. Darma dan Dian yang ternyata pemalu. Bang Aziz yang ternyata jahil dan suka iseng godain gue. Adibah yang ternyata kocak parah. Bang Kay yang ternyata gemesin-able karena malu-malu tapi mau. Dan Imaz, yang ternyata lebih dewasa dari yang terlihat.


Seolah sudah mengenal lama, kita semua larut dalam obrolan. Gue, Deya, dan Bang Ucup pun resmi dinobatkan sebagai Trio Rusuh karena emang yang paling berisik. Sampai tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Beberapa ada yang pulang duluan karena rumahnya jauh. Sisanya (gue, Bang Kay, Bang Ucup, Deya, Yoga, dan Imaz) memilih untuk nyari makan di sekitar Sarinah.


Hingga tiba waktunya pulang, gue masih nggak ikhlas hari itu berakhir dan cuma berharap kalau bisa merasakan ngumpul yang sama di lain waktu. Bahkan mungkin dengan teman-teman lain yang nggak sempet datang.


Untuk kalian, terima kasih sudah nyempetin waktu buat ketemu gue yang biasa aja ini.


Gue bingung mau bilang apa lagi selain.....


Nyesel kan lo pada.


(Dari kiri: Bang Aziz. Yoga, Deya. Bang Ucup, gue. Dari kanan: Bang Kay, Imas, Darma, Dian, Adibah)

Sama Yoga si cerewet-tapi-di-sosmed-doang

Sumpah, ini makhluk ngangenin banget. Paling berisik tapi paling care. Kayak Abang sendiri :")

Bang Aziz kenapa komuknya kayak Kepsek mau ngasih rapor, sih, Bang :"

Deya naq qeqinian~

Komuk kontrol tolong...

Kalo kata Deya, mah, meet up Bidadari Magang Lovers feat. Exaddict~

Gimana nggak mirip petakilannya, wong nama aja beda satu huruf doang.

See you super soon, Favorite Team. :))

10/03/2016

Gue Juga Pengen Woi

          35 Comments   
Entah perasaan gue aja, apa kita emang memasuki zaman dimana kalau mau terkenal kudu cari sensasi dulu.


Nggak perlu jauh-jauh, belakangan ini aja Netizen dijejelin berita-berita yang mengundang banyak reaksi dari tiap orang yang mendengarnya. Mulai dari kasus Awkward-rin, Raven, Anya Geraldine, dan lain sebagainya.


Pucing pala incess~


Kalau dipikir-pikir, harusnya ini nggak akan berdampak apa-apa bagi kita. Tetapi, buat gue pribadi, hal kayak gini malah jadinya bikin mikir, “Kok bisa, ya, anak muda zaman sekarang bisa ngehasilin duit dari hal-hal kayak gitu?”


Inilah pula yang membuat gue akhirnya bertanya pada diri sendiri tentang apa yang bisa gue hasilkan mumpung umur belum terlalu tua untuk melakukannya. #Tsah #20AjaBelaguLu


Kalau dilihat dari sisi positifnya, sadar enggak sadar, mereka udah menjadi kiblat bagi kebanyakan remaja untuk lebih produktif. Rasanya keren aja gitu. Kita pengen sesuatu tinggal beli pake duit sendiri dan nggak harus ngerepotin orang tua. Mau bayar ini itu juga udah bisa mandiri. Yah, walaupun dibalik itu ada kerja keras yang bisa bikin otot sama otak pengen resign seketika.


Gue sendiri belakangan ini rentan galau tiap mikir apa yang akan gue lakukan kedepannya. Kata Didi, sih, di umur segini emang itu rentan terjadi. Makin dewasa seseorang, maka makin kompleks juga apa yang dia pikirkan. Apalagi, sebagai seorang cewek yang notabene-nya demen belanja, nahan diri buat nggak melipir ke diskonan dan belanja online itu rasanya kayak disuruh mikul karung goni sambil tawaf. Berat, kapten!


Nah, karena saat ini belanja bisa dilakukan dimana saja, buat kamu yang sangat suka belanja online, kamu tidak boleh melewatkan Singles Day dan Harbolnas di Zalora! Kedua event keren ini dijamin akan sangat membantu kita mendapatkan apa yang kita mau dengan kualitas yang oke punya. 


Masing-masing ada Singles Day (berlangsung pada tanggal 11 November) dan Hari Belanja Online Nasional (mulai 10 Desember sampai 12 Desember). Untuk keterangan lebih lanjut, kalian bisa langsung kunjungi halamannya di https://www.zalora.co.id/singles-day/ dan https://www.zalora.co.id/harbolnas/ ya!







Selamat belanja dan bahagia~

9/28/2016

Pada Bandung, Ada Kata Diatas Bahagia

          45 Comments   
Aku mengencangkan kunciran rambutku sebelum akhirnya keluar dari toilet. Beberapa perempuan lain tengah sibuk di depan kaca. Ada yang membenarkan riasannya, menata jilbabnya, ada pula yang sekedar mengantri untuk cuci tangan setelah buang air.


Pagi itu stasiun Gambir lumayan ramai. Orang-orang berlalu lalang di depanku. Beberapa diantaranya tampak tergesa-gesa. Terlebih setelah adanya suara dari mikrofon yang memberitahukan kalau sebuah kereta akan berangkat. Aku sendiri memilih duduk di kursi tunggu yang terletak di tengah gedung. Menunggu Didi yang masih dalam perjalanan menuju tempatku (katanya).


Sembari menunggu, aku menyetel lagu dari ponsel yang dari tadi kugenggam. Ransel ungu yang kubeli bulan lalu kuletakkan di pangkuanku. Kuperhatikan sejenak, lalu tersenyum. Memang tak ada sesuatu yang istimewa dari ransel ini. Hanya saja, ketika membelinya, aku sengaja membeli dua namun dengan warna yang berbeda. Untukku berwarna ungu, dan untuk Didi berwarna biru tua.


Setelah kurang lebih satu jam menunggu, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berbalik dan menemukan Didi sedang terkekeh karena telah membuatku menunggu.


“Aku ketiduran setelah kamu membangunkanku tadi. Hehehe. Maaf, ya?”


Kalimatnya hanya kubalas dengan wajah kesal. Yang kemudian membuat hidungku dicubit Didi lumayan kuat.


Hari itu kita akan ke Bandung. Sambil menunggu pemberitahuan untuk masuk ke dalam kereta, kita pun memutuskan untuk sarapan pagi di stasiun (lebih tepatnya hanya Didi, aku sudah lebih dulu sarapan sebelum dia sampai).


Hingga akhirnya kita pun berangkat.


Selama perjalanan, kita membicarakan banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang waktu dan orang-orang, bahkan hal-hal tak penting seperti gosip Raisa putus kemarin. Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung ditempuh dengan waktu kurang lebih tiga jam. Sesekali, tanganku menggenggam lengannya. Entahlah, hal itu semacam reflek ketika berada di sebelah Didi. Aku tak pernah merencanakannya.


Lalu kita sampai.


Aku menghembuskan napas setelah keluar dari gerbang kedatangan. Didi masih sibuk dengan ponselnya. Kita memang sedang liburan colongan, jadi Didi tetap harus mengerjakan pekerjaannya dan aku pun harus memakluminya.


Bandung sore itu hujan. Menambah sendu dan rindu pada kota kembang, kampung halamanku, yang akhirnya ku kunjungi kembali. Setelah mengisi perut dan bersih-bersih, kita memutuskan untuk jalan kaki ke Ciwalk. Selain karena tujuan awal kita gagal terlaksana (sebenarnya mau ke Bukit Bintang, tetapi karena gerimis dan beberapa pertimbangan lainnya akhirnya nggak jadi), Ciwalk adalah tempat paling dekat dari tempatku dan Didi selama di Bandung.


Selama di Ciwalk, aku sempat kesal gara-gara kelakuan Didi yang jahil karena disengaja. Iya, memang disengaja. Setiap kali ada yang tak kusuka, aku akan reflek berteriak "AKU KESEL!" dengan nada yang oleh Didi dianggap lucu.


Kemudian hari kedua pun tiba.


Jauh sebelum merencanakan untuk ke Bandung, kita berdua memang sudah me-list tempat-tempat yang seru untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Grafika Cikole yang terletak di Lembang.


Gerimis menemani perjalanan kita kesana. Sambil melihat petunjuk arah melalui GPS, aku sesekali mengoceh di belakang Didi. Bukit, sawah, dan kebun-kebun bunga mengiringi hingga tiba di tempat tujuan.


Disana dingin. Tapi aku tak setega itu membiarkan Didi memberikan jaketnya padahal dia sendiri sedang pilek. Dan, karena gerimis tak kunjung reda, kita pun memutuskan untuk berteduh sambil mengisi perut di sebuah pendopo yang tak jauh dari tempat untuk berfoto.


Ada banyak hal yang kemudian kita bagi satu sama lain. Rasanya seperti tak pernah kehabisan bahan untuk bertukar cerita. Ditambah lagi, ketika kita berdua melihat satu keluarga yang enggan berteduh dan tetap melanjutkan makan padahal hujan mulai deras. Didi terbahak. Sedangkan disebelahnya, aku menikmati pemandangan itu dengan bahagia karena dia tertawa.


Ketika hendak pulang, Didi malah mengajakku ke Farm House Lembang yang tak jauh dari tempat awal kita tadi. Tak sampai sepuluh menit, aku sudah menyukai tempatnya. Selain karena banyak spot yang bagus, aku pun antusias setelah tahu adanya kandang kelinci disitu. Hewan kesukaanku!


Malam terakhir di Bandung, kita habiskan dengan menyusuri jalan di daerah Dago sambil melihat-lihat berbagai Factory Outlet yang ada disana.


Begitulah. Tiga hari di Bandung, tak ada yang kurasakan selain bahagia dan takut. Ya, takut jika rindu akan menyeretku ke semua cerita ini. Rasanya, aku ingin memberhentikan waktu saat itu juga. Sekedar untuk merasakan hal yang sama. Kedua kalinya. Ketiga. Bahkan lebih. Klasik memang, tetapi begitulah adanya.


Untuk Bandung, sampai bertemu kembali di kesempatan yang selalu dinantikan.

Dan untuk lelaki yang mewakili semua kata 'paling'ku (paling jahil, paling bikin rindu, dan tentu, paling disayang), Didi Santoso, terima kasih untuk (lagi-lagi) waktunya, ceritanya, kesabarannya menghadapi perempuan pencemburu sepertiku, dan semua hal tak terduga yang kita dapatkan selama perjalanan berdua.


Sungguh, Bandung tak pernah se-sempurna itu ketika denganmu.









9/15/2016

Metafora Padma, Buku Yang Bisa Membuatmu Jatuh Cinta Dengan Teramat

          32 Comments   
Seru, mengejutkan, dan curious-able.


Kira-kira, begitulah tiga kesan yang akan ku utarakan kalau ditanya soal isi buku Metafora Padma.


Selama membaca bab demi bab yang ditulis Bernard, tidak sekali pun aku lewati tanpa ada kalimat, “Loh?”, “Eh?”, “Kok gitu?!”, dan semacamnya. Buku ini bisa membuat kita seperti berada dalam cerita tersebut, atau setidaknya menjadi orang yang berada di tempat yang sama dengan si pencerita.


Awalnya, aku mengetahui terbitnya Metafora Padma dari akun Instagram si penulis, @Benzbara. Hal pertama yang terpikirkan adalah, “Wah, buku baru lagi. Pasti keren, nih.”.


Dan ternyata, ekspektasiku salah.

Buku ini tidak keren. Maksudku, tidak (cuma) keren. Tapi asik, dan bikin aku yang tadinya ngantuk, malah jadi ngebaca kalimat demi kalimat sampai tahu-tahu udah kelar. Iya, sebegitu menariknya.


Gimana akhirnya aku mendapatkan buku ini juga tidak semudah datang ke toko buku, membayarnya, lalu pulang. Senin itu, tepat Hari Raya Idul Adha kemarin, aku mengunjungi Gramedia Manado Town Square dengan niat membeli buku Metafora Padma ini.


Ketika mengetik judul buku di mesin pencari, ternyata stok yang tersedia tinggal 9 buku lagi. Aku pun bergegas ke rak novel, dan mencari petugas yang sedang santai. Setelah berdiskusi sebentar dengan rekannya (petugas tersebut menanyakan letak buku Metafora Padma, sepertinya dia orang baru) dia pun menyuruhku menunggu sembari dia menyusuri beberapa tumpukan buku.


Setelah mondar-mandir lebih dari sepuluh kali (ini benar, aku sendiri menghitungnya) dia akhirnya kembali menghampiriku, lalu memberikan buku tersebut sambil meminta maaf karena membiarkanku menunggu kurang lebih satu jam. Yang menyulitkan pencariannya adalah, ternyata buku tersebut ketutupan oleh satu buku lain.


Merasa bahagia dan lega karena akhirnya berhasil menemukan yang dicari, aku reflek memeluk buku itu sampai menjadi perhatian beberapa pengunjung lain yang berada di dekatku.


Walaupun udah dibaca lebih dari sekali, tetep aja tak pernah lupa dibawa kemana-mana.


“Sebegitu berharganya, kah?” tanya petugas tadi sambil tersenyum ketika melihatku begitu excited.

“Saya punya semua buku karya penulis ini, dan semuanya selalu penuh kejutan. Sangat bagus.”

“Haruskah saya menjadi pembeli yang kedelapan terakhir?”

You have to.”


Usai melakukan pembayaran, aku pun meninggalkan Gramedia dan menuju ke salah satu coffee shop yang tak jauh dari tempat itu. Lembar demi lembar kubuka dengan pelan dan hati-hati (aku memang mempunyai kebiasaan merawat buku dengan cara seperti itu). Hingga tak terasa, aku sudah berada di tempat itu tak kurang dari tiga jam.


Banyak kutipan dalam buku Metafora Padma yang kurasa bisa membius pembacanya, atau setidaknya membuat hati kita berdersir untuk beberapa saat lamanya. Misalnya pada halaman 79, dalam bab berjudul ‘Percakapan Kala Hujan’, ada sebuah kalimat yang membuatku langsung jatuh cinta pada bab tersebut.


Kalau mencintaimu ternyata perbuatan sia-sia, aku cukup bahagia dengan hidupku yang dipenuhi hal sia-sia.


Tidak hanya itu, hal menarik yang bisa kita rasakan ketika membaca Metafora Padma adalah merasa seolah menjadi si tokoh dalam cerita tersebut. Dengan total halaman 157 lembar, Bara berhasil menulisnya dengan unik dan berkarakter. Tulisannya ringan, tetapi serius.


Loh, maksudnya gimana ringan tapi serius?


Iya, jadi walaupun kita disuguhkan dengan cerita berlatar konflik pada zaman dulu, kita tetap bisa menikmatinya dengan santai. Ini karena jumlah halaman per-bab tidak terlalu banyak, sehingga pembaca pun tidak akan bosan.


Untuk penulis yang selalu membuatku kagum, Bernard Batubara, you really did a great job, and it’s kinda hard to not falling in love with your books.


Overall, this book should be yours.

9/09/2016

Semoga Kau Ikut Tersenyum Ketika Mengenalnya

          22 Comments   
Aku berjalan melewati koridor sekolah sambil membaca salah satu buku karya Randall Munroe yang berjudul "What If". Hujan baru saja mengguyur kota beberapa saat yang lalu. Meninggalkan genangan air dimana-mana.

Berhubung masih gerimis, aku memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang ada di seberang lapangan basket sekolah sambil meneruskan membaca.


Suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang barangkali sedang menunggu jemputan atau menunggu gerimisnya reda. Oh iya, untuk kalian yang sedang membaca ini, barangkali kita mempunyai kesukaan yang sama perihal aroma tanah yang basah oleh hujan. Jika begitu, aku mau kau tahu kalau saat itu aku pun sedang tersenyum menghirup aromanya sambil sesekali melamun pada genangan air yang terlihat seperti sungai kecil di selokan di depanku.


Entah apa yang sedang kufikirkan saat itu, namun lamunanku buyar ketika melihat sebuah perahu kertas kecil yang sedang terombang di selokan karena setengah badannya sudah terkena air. Aku mengambilnya dan memperbaiki posisi perahu setengah rusak itu agar tak terbalik.


Penasaran, aku mencari tahu dari mana asal perahu tersebut. Berhubung ruangan yang paling dekat dari tempat dudukku adalah kelas Tiga Ilmu Alam Dua, aku pun menuju kelas tersebut dan membawa kembali perahu kertas yang tadi karena memang sudah tak bisa dilayarkan.


Suasana kelas itu sudah sangat sepi. Hanya ada seorang perempuan dengan sweater abu-abu yang terlihat sedang sibuk sendiri di bangku ketiga dari papan tulis. Dia sedang melipat-lipat kertas yang aku kira itu adalah calon perahu buatan lainnya.


“Kau salah melipatnya. Harusnya ke belakang, bukan ke samping begitu.” Kataku sambil menghampirinya.


Dia tersentak mendengar suaraku. Tampaknya kaget, karena setelah itu yang dia lakukan adalah mengelus dadanya seperti gesture orang yang mengatakan ‘sabar’ pada dirinya sendiri. Aku tertawa melihatnya.


“Terima kasih informasinya. Tetapi perahu ini memang sengaja kubuat mudah tenggelam.” Katanya kemudian.

“Eh? Kenapa?”

“Buka saja kertasnya.”


Aku mengibas-ngibaskan perahu kertas yang sudah basah tadi untuk mengeluarkan air yang masih tersisa, kemudian membukanya dengan hati-hati. Di kertas itu, ada beberapa tulisan yang  pudar karena luntur oleh air. Aku memicingkan mata dan membacanya satu per-satu.


Mantan”, “Orang-orang munafik”, “Tukang parkir yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuanku”, dan beberapa sosok lainnya yang aku pun merasa mereka itu harus dilenyapkan dari muka bumi.


“Boleh aku ikut membuatnya?” Tanyaku setelah tertawa membaca tulisan di kertas itu.

“Boleh. Tapi jangan disamakan, ya?”

“Loh? Memangnya kenapa?”

“Ini bukan contekan Ujian Nasional.” Jawabnya kemudian.


Perempuan itu lalu membereskan barang-barang di mejanya, sebelum akhirnya berlalu menuju koridor di depan kelas.


“Aku pulang, ya? Sudah dijemput.” Katanya sambil tersenyum.

“Dijemput siapa?” Tanyaku, agak ragu kalau-kalau dia punya pacar.

“Sopir angkot.” Jawabnya sambil melambai-lambaikan perahu kertas yang tadi dibuatnya sebelum dilayarkan ke selokan dan pergi.


Dari dalam kelas, aku tersenyum. Masih saja terfikirkan matanya yang bulat, kulitnya yang putih, pun rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Dan, oh, senyumnya nyaris membuatku amnesia kalau aku masih di bumi.


Lalu aku teringat sesuatu.


Nama! Aku belum sempat tahu namanya!


Aku berlari menyusuri koridor untuk mencarinya, tapi dia sudah tak ada. Jalannya cepat sekali. Batinku dalam hati.


Beruntung, aku menemukannya masih berdiri di depan gerbang sekolah dan baru saja hendak naik ke angkutan umum.  Tanpa basa-basi, aku nyaris berteriak dari jarak yang sudah cukup jauh untuk mengobrol. Syukurlah, dia masih sempat mendengarnya.


“Hey! Namamu siapa?” Tanyaku sambil mengatur nafas setelah capek berlari barusan.

Anehnya, perempuan itu tak menjawab pertanyaanku. Hanya mengacungkan jarinya keatas membentuk angka satu.


Belum sempat aku berbicara lagi, angkutan umum yang ditumpanginya sudah terlanjur pergi. Aku menyayangkan hal itu dan mendengus sedikit. Berhubung hujannya sudah reda, aku memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu, aku melewati koridor kelas perempuan barusan sambil berniat mengambil tas yang kutinggalkan di kursi kayu tempatku membaca tadi.


Tanpa sengaja, aku melihat sebuah perahu kertas yang baru kuingat kalau itu adalah perahu terakhir perempuan tadi sebelum dia pulang. Kuhampiri perahu itu, lalu kubuka kertasnya dengan hati-hati. Di dalamnya, adalah sebuah tulisan yang seketika membuat aku kaget saking tak percaya. Aku bahkan terduduk beberapa saat karena merasa hal itu nyaris mustahil terjadi.


Setelah membaca tulisan di kertas tadi, aku tak langsung pulang. Sengaja ku-ulur waktu dengan mengelilingi kota yang baru saja akan beranjak malam. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak membenci macetnya Ibu Kota. Malah senang. Aku bisa sampai dirumah sesuai dengan keinginanku.


Hal yang kulakukan ketika tiba dirumah pun agak berbeda dari biasanya. Kalau di hari-hari biasa aku langsung menghidupkan laptopku setelah melepas seragam , kini aku malah beranjak ke kamar mandi untuk mandi, kemudian makan malam lebih cepat.


Setelah merasa waktunya tepat, aku bergegas menuju kamar dan duduk bersandarkan bantal yang posisinya kubuat tegak. Mengambil ponsel yang batrainya sudah terlebih dahulu kupenuhkan, lalu memencet beberapa digit angka dari layar ponselku. Jantungku nyaris mau lepas seiring dengan bunyi panggilan yang masih mengudara.


Sampai tiba-tiba suara itu terdengar dari seberang. Suara yang sore tadi berhasil membuat aku percaya kalau di dunia ini tak ada yang tak mungkin.


“Halo?” Sapa perempuan itu.

“Langit?” Tanyaku sambil tersenyum, penuh akan bahagia.

“Iya. Ini siapa, ya?”

Aku diam sebentar, sebelum kemudian menjawabnya dengan pelan.


“Langit. Lelaki sore tadi yang menemani langit lain membuat perahu kertasnya.”




8/13/2016

Tulisan Ini Tak Harus Dibaca Olehnya

          52 Comments   
Tokoh utama, tidak harus ada pada halaman pertama dari sebuah cerita.

Kira-kira, begitulah salah satu kalimat yang kubaca pada buku ke-empatku di bulan ini.


Sudah setahun belakangan, yang kulakukan tidak jauh dari bepergian mengunjungi kedai-kedai kopi yang bersedia menjadi saksi tulisan ini diselesaikan. Cerita bagaimana aku memulihkan sesuatu yang sudah lama dibiarkan kosong tak berpenghuni.


Windi Putra Santoso. Lelaki yang kusebutkan pada dua kata pertama tulisan ini. Lelaki dengan senyum yang selalu kurindukan. Lelaki, dengan tawa yang membuatku betah berlama-lama memperhatikannya dalam euforia bahagia. Dialah pula yang membuat draft tulisanku penuh akan cerita cinta. Sesak. Seolah kehidupanku hanya berputar pada semua rinci tentangnya.


Aku bukan ingin mengisahkan bagaimana garis takdir mempertemukan kita dalam satu kebetulan di muka bumi. Bagian itu sudah pernah kuceritakan di dua tulisan sebelum ini. Yang hendak kukisahkan adalah, bagaimana suatu tempat menjadi saksi dari dua kegelisahan terhebat di hidupku.


----


Hari itu petang ke-dua belas di bulan Juli. Aku duduk menghadap laut yang memantulkan cahaya matahari dengan posisi terbaiknya. Meja kayu yang menghadap langsung pada panorama tersebut selalu menjadi pilihan sembari menghabiskan sarapan pagi. Walaupun begitu, mataku memang tak pernah bisa menyangkal bahwa sosok di sampingku lah yang selalu menang membuatku tertarik memperhatikannya berulang kali.


Tak terasa, sudah empat hari pagiku seperti ini. Menyenangkan, pun menggelisahkan. Di sebelahku masih ada dia. Pelaku utama pada kegaduhan di pikiran ini. Aku mengedarkan pandangan pada wajahnya.


Barangkali, itu kali terakhir aku menikmati suasana sarapan pagi sesempurna itu.


Di lain tempat, kuhirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat. Didepanku sudah ada dia dengan beberapa tas yang terisi penuh. Sebelum kendaraan beranjak, kulontarkan senyum kecilku pada bangunan yang nantinya akan kurindukan dengan sangat.


Jalanan yang kita lalui tak begitu padat. Di belakangnya, aku mengeratkan pelukan dengan sendu. Rasanya tenang, namun perlahan-lahan perih tak terduga.


Lalu kita sampai.


Aku menyentuh tombol merah pada layar ponselku sembari menunggu dia yang masuk sebentar ke ruang keberangkatan untuk check in. Detik di bagian atas layar mulai berpindah dari angka ke angka.


Hai. Akhirnya waktu membawaku kesini lagi. Ingat itu? Ya, empat hari lalu aku berada disana untuk menghampirinya dengan rindu yang berserakan. Kini, beberapa meter dari sana namun masih di tempat yang sama, aku kembali bersamanya. Bukan untuk menyambut, tetapi melepas.
Memang bukan perkara mudah untuk kita berdua kembali mempersiapkan diri menabung rindu melalui bentangan jarak. Namun kau tahu, semenyiksa apapun waktu, aku tak akan berhenti menunggunya atas segala alasan yang lahir.

Hngg....

Kurasa tak lama lagi dia akan keluar dari pintu itu untuk menghampiriku sambil kita menunggu waktu berangkat tiba.Oh ya, rekaman ini terasa terlalu melankolis jika dilihat olehnya. Aku akan mengulang kembali dengan versi yang mudah dimengerti. Sampai jumpa di lain waktu, dengan tempat yang mungkin akan sama untuk menyambutnya dengan pelukan. Lagi.”


Tak lama kemudian, dia benar-benar keluar dari pintu itu. Dengan ransel coklat dan tas jinjing berwarna biru tua yang terlihat lumayan berat. Wajahnya masih tersenyum.


Meja kecil di sudut tengah ruangan menjadi tempat terakhir kita duduk berdua kala itu. Sembari meneguk Frappe dengan perlahan, aku menghitung mundur waktu dengan terpaksa.


Dua puluh menit.


Lima belas menit.


Hingga lima menit terakhir dari waktu yang harus membawa dia masuk ke ruang keberangkatan.


Dan disanalah kita. Di depan pintu yang menjadi pembatas untuk aku dan dia. Dengan tiga kecupan terakhir pada hari itu, pun pelukan penuh haru yang menolak usai.













8/10/2016

Rahasia Cewek Yang Perlu Kamu Ketahui

          40 Comments   
Selain pelajaran ECSAC dan isi hati Limbad, ada salah satu hal di muka bumi yang juga sukar untuk dimengerti.


Cewek.



Sudah bukan rahasia umum lagi kalau kita adalah makhluk yang paling nggak bisa ditebak. Ngomongnya ini, taunya gitu.

Beberapa hari belakangan ini, gue lagi rada baperan. Bahkan sama hal-hal kecil sekalipun. Entah pengaruh kondisi yang kurang stabil atau bawaan dapet, semua hal yang berkaitan dengan perasasaan pasti sukses bikin gue sedih seharian.


Untuk itu, sebagai cewek yang nggak selalu bisa ngungkapin apa yang kita rasain, gue terfikirkan untuk membuat tulisan ini. Beberapa rahasia cewek yang seringkali tidak diketahui pasangannya.


1.       Aslinya Capek Dan Ngantuk Banget, Tapi Lebih Milih Stay Strong



Buat kalian para cowok yang udah seneng punya pacar tukang begadang atau masih melek di jam-jam malem untuk diajak ngobrol, percayalah, cewek itu nggak bener-bener masih bangun. Nggak jarang, kita ngorbanin kantuk cuma buat jadi pendengar setia agar kalian nggak ngerasa sendiri.


2.       Disaat Kalian Terpuruk, Ada Hati Yang Lebih Remuk




Sejujurnya, setiap kali pasangannya merasa sedih kemudian menceritakannya, seorang cewek bisa jauh lebih sedih dari apa yang kalian bayangkan. Kita selalu menempatkan posisi kita pada kalian saat itu. Rasanya ngeliat orang yang disayangi terluka, jadi siksaan hati tersendiri bagi para cewek.


3.    Cewek Bisa Tahu Semua Yang Bahkan Tidak Diberitahu


Sadar enggaknya, kalian-para cowok seringkali berfikir kalau beberapa hal yang menurut kalian nggak perlu dikatakan, emang nggak diketahui sama pasangan kalian. But hey, karena terlatih untuk melakukan sesuatu nggak cuma pake akal-melainkan juga melibatkan hati, cewek bisa dengan sendirinya ngerasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dari situlah, kita mulai menganalisis hal apa yang dirasa ganjil tersebut. Makanya, dalam beberapa kesempatan cewek akan langsung bertanya dengan kalimat seperti, “Kamu kenapa?” atau “Is eveything okay?” ditengah-tengah percakapan.


4.    Nggak Ada Yang Lebih Bikin Dia Bahagia Ketika Dia Ditempatin Di Tujuan Kamu



Membuat cewek bahagia nggak melulu harus berusaha romantis atau humoris. Seringkali, cowok terlalu sibuk mikirin benda-benda yang bisa menyenangkan hati pasangannya hingga lupa akan satu hal sederhana yang paling utama dibutuhkan oleh perempuan, kepastian jangka panjang. Ini juga merupakan kunci keraguan terbesar yang dimiliki oleh setiap perempuan.  Kita butuh diingatkan kalau kita bener-bener ada di masa mendatang kalian. Gue berani jamin, setelah ngungkapin itu, hanya akan ada dua hal yang terjadi. Kalau nggak senyum, at  least dia ngerasa lebih tenang.


5.       Dibalik Cemburu, Selalu Ada Rasa Tersaingi Yang Lebih Kuat



Beberapa cowok mungkin berfikir kalau dengan membuat ceweknya cemburu adalah cara untuk mengetahui kadar rasa sayang ceweknya.Tetapi, yang kalian nggak ketahui, cemburunya seorang cewek itu nggak cuma sekedar cemburu. Disaat ada cewek lain yang membuat dia merasa demikian, ketakutan dan rasa tersaingi juga ikut melekat di dalamnya. Dan begonya, para cowok selalu menganggap itu hal yang biasa dan bisa terlupakan begitu saja.

Padahal justru sebaliknya. Cewek akan terus merasa terancam dengan keberadaan pihak yang membuatnya cemburu lalu rapuh disaat yang bersamaan. Hal inilah yang bisa menjadi pemicu berkurangnya rasa percaya. Dibuat luka berkali-kali memang membuat terbiasa,tapi ada satu hal yang mungkin terlupakan. Bekas lukapun bisa hilang dengan cara berhenti untuk rela dilukai.

"Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat."
-Ali Bin Abi Thalib

Copyright © Fredeva is designed by Fahrihira