Penyebab Mata Katarak & Kebiasaan Pemicu yang Wajib Anda Cek!

Penglihatan yang mulai buram sering dianggap hal biasa, terutama jika muncul perlahan. Banyak orang baru sadar ada masalah ketika tulisan kecil sulit dibaca, lampu kendaraan terasa terlalu silau, atau pandangan seperti tertutup kabut. Salah satu penyebab yang sering berkembang tanpa disadari adalah mata katarak, yaitu kondisi ketika lensa mata yang seharusnya jernih berubah menjadi keruh.

Dilansir dari WHO, setidaknya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh, dan minimal 1 miliar kasus di antaranya dapat dicegah atau belum tertangani. WHO juga menyebut katarak sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan secara global.

Di Indonesia, data juga menunjukkan bahwa katarak masih menjadi masalah kesehatan mata yang serius. Dikutip dari Kemenkes, berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB 2014–2016, prevalensi kebutaan di Indonesia mencapai 3% pada populasi usia 50 tahun ke atas, dengan katarak sebagai penyebab tertinggi sebesar 81%. Data Kemenkes tahun 2018 juga menunjukkan 1,9% penduduk Indonesia di atas usia 50 tahun mengalami kebutaan akibat katarak mata.

Secara umum, penyebab katarak paling sering berkaitan dengan penuaan. Namun, risikonya juga dapat meningkat karena diabetes, riwayat keluarga, paparan sinar UV, kebiasaan merokok, cedera mata, dan penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan dokter.

Memahami Faktor Risiko dan Penyebab Katarak Secara Medis

Ilustrasi mendeteksi faktor risiko dan penyebab mata katarak melalui pemeriksaan kesehatan mata berkala.

Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan tampak buram, berkabut, atau seperti tertutup asap. Kondisi ini muncul karena protein di dalam lensa berubah, menggumpal, lalu menghalangi cahaya masuk ke retina.

Menurut WHO, katarak berdampak pada lebih dari 94 juta orang secara global. WHO juga mencatat, sekitar 1 dari 2 orang di dunia yang membutuhkan operasi katarak belum memiliki akses terhadap tindakan tersebut.

1. Proses Penuaan Alami Tubuh

Penuaan merupakan penyebab katarak yang paling umum. Seiring bertambahnya usia, lensa mata dapat menjadi lebih tebal, kurang lentur, dan tidak sejernih sebelumnya.

Protein di dalam lensa yang semula tersusun rapi bisa mulai menggumpal. Gumpalan ini membuat lensa tampak keruh dan mengganggu masuknya cahaya. Karena prosesnya perlahan, banyak orang baru menyadarinya ketika penglihatan mulai menghambat aktivitas harian.

2. Riwayat Penyakit Diabetes

Diabetes termasuk faktor risiko katarak yang perlu diwaspadai. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dapat memengaruhi metabolisme di dalam lensa mata, sehingga lensa lebih rentan mengalami perubahan kejernihan.

Mayo Clinic mencantumkan diabetes sebagai salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko katarak. Karena itu, penderita diabetes sebaiknya tidak menunggu penglihatan kabur untuk memeriksakan mata.

3. Faktor Genetik atau Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko katarak. Jika ada anggota keluarga yang mengalami katarak pada usia tertentu, seseorang bisa memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Faktor genetik tidak berarti seseorang pasti terkena katarak. Namun, riwayat keluarga bisa menjadi alasan untuk lebih waspada, terutama jika disertai diabetes, kebiasaan merokok, atau paparan sinar UV yang tinggi.

Agar lebih mudah dipahami, berikut ringkasan faktor risiko katarak, dampaknya pada mata, dan cara mengurangi risikonya.

Tabel Faktor Risiko Katarak dan Cara Pencegahannya

Faktor Risiko Dampak pada Mata Cara Mengurangi Risiko
Penuaan Protein lensa berubah dan menggumpal Pemeriksaan mata rutin
Diabetes Gula darah tinggi mempercepat perubahan lensa Kontrol gula darah dan cek mata berkala
Paparan sinar UV Memicu stres oksidatif pada lensa Gunakan kacamata hitam anti-UV
Merokok Meningkatkan radikal bebas Kurangi dan hentikan kebiasaan merokok
Steroid jangka panjang Meningkatkan risiko gangguan lensa Gunakan sesuai arahan dokter
Riwayat keluarga Risiko bisa lebih tinggi karena keturunan Cek mata lebih dini dan rutin

Setelah memahami faktor dari dalam tubuh, penting juga melihat kebiasaan harian yang sering dianggap sepele. Beberapa kebiasaan tidak langsung merusak mata, tetapi dapat mempercepat risiko dalam jangka panjang.

Kebiasaan Sehari-hari yang Memicu Risiko Katarak

Kebiasaan harian punya pengaruh besar terhadap kesehatan mata. Paparan lingkungan, gaya hidup, dan penggunaan obat tanpa pengawasan dapat membuat lensa mata lebih rentan mengalami gangguan.

1. Sering Beraktivitas di Luar Ruangan Tanpa Pelindung Sinar UV

Paparan sinar ultraviolet atau UV dari matahari dapat berdampak pada kesehatan mata. Jika mata sering terkena sinar matahari langsung tanpa perlindungan, lensa dapat mengalami stres oksidatif dalam jangka panjang.

Risiko ini lebih tinggi pada orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan, seperti pekerja lapangan, pengendara motor, petani, nelayan, atau orang yang sering berolahraga di bawah terik matahari. Karena itu, pelindung mata sebaiknya menjadi kebiasaan, bukan sekadar aksesori.

2. Kebiasaan Merokok Secara Aktif

Merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru dan jantung. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan mata, termasuk katarak.

Zat kimia dalam rokok dapat memicu radikal bebas yang merusak sel sehat. Pada lensa mata, paparan radikal bebas dapat mempercepat proses oksidasi sehingga protein lensa lebih mudah berubah dan membentuk area keruh.

3. Konsumsi Obat Kortikosteroid Jangka Panjang Tanpa Pengawasan

Obat kortikosteroid sering digunakan untuk mengatasi peradangan, alergi, atau penyakit tertentu. Namun, penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko efek samping pada mata.

National Eye Institute mencantumkan penggunaan steroid sebagai salah satu faktor yang membuat katarak lebih mungkin terjadi. Mayo Clinic juga menyebut penggunaan obat steroid dalam waktu lama dapat menyebabkan katarak berkembang. Karena itu, obat jenis ini sebaiknya tidak digunakan sembarangan.

Mengetahui faktor risiko saja belum cukup. Langkah berikutnya adalah membangun kebiasaan kecil yang bisa dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan mata lebih lama.

Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Mata Sejak Dini

Katarak yang berkaitan dengan penuaan memang tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Namun, beberapa kebiasaan sehat dapat membantu mengurangi faktor risiko dan memperlambat dampak buruk dari kebiasaan yang kurang sehat.

1. Menggunakan Kacamata Hitam Anti-UV Saat Terik

Jika sering berada di luar ruangan, biasakan membawa kacamata hitam anti-UV. Pilih kacamata yang benar-benar memiliki perlindungan UV, bukan hanya lensa gelap biasa.

Gunakan juga topi bertepi lebar saat matahari sedang terik. Kebiasaan ini sederhana, tetapi berguna untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari ke area mata.

2. Mengadopsi Pola Makan Kaya Antioksidan

Pola makan sehat dapat membantu tubuh melawan radikal bebas. Untuk mendukung kesehatan mata, konsumsi sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian secara rutin.

Mulailah dari langkah sederhana. Tambahkan sayur hijau saat makan siang, pilih buah sebagai camilan, dan kurangi makanan tinggi gula jika memiliki risiko diabetes. Meski tidak menjamin bebas katarak, pola makan bergizi tetap penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara umum.

3. Melakukan Pemeriksaan Mata Secara Berkala

Pemeriksaan mata penting dilakukan meski belum ada keluhan berat. Katarak bisa berkembang perlahan, sehingga perubahan pada lensa sering baru disadari ketika penglihatan sudah cukup terganggu.

Jika memiliki diabetes, riwayat keluarga katarak, sering bekerja di luar ruangan, atau sudah memasuki usia lanjut, jadwalkan pemeriksaan mata secara lebih disiplin. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi perubahan lebih awal, sebelum gangguan penglihatan menghambat aktivitas harian.

Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan. Jika penglihatan mulai kabur, mudah silau, warna tampak memudar, atau sulit melihat di malam hari, pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan lebih cepat.

Kesimpulan

Penyebab katarak paling sering berkaitan dengan proses penuaan. Namun, kebiasaan hidup dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat mempercepat kemunculannya. Diabetes, riwayat keluarga, paparan sinar UV, merokok, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan termasuk faktor yang perlu diwaspadai.

Menjaga mata tidak harus menunggu sampai penglihatan buram. Mulai dari memakai kacamata anti-UV, mengatur pola makan, menghindari rokok, mengontrol gula darah, hingga memeriksakan mata secara berkala, langkah kecil ini bisa membantu menjaga penglihatan tetap jernih lebih lama.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa penyebab katarak yang paling umum?

Penyebab katarak yang paling umum adalah proses penuaan. Seiring bertambahnya usia, protein di dalam lensa mata dapat berubah dan menggumpal sehingga lensa menjadi keruh. Selain usia, risiko katarak juga dapat meningkat karena diabetes, paparan sinar UV, merokok, riwayat keluarga, cedera mata, dan penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

Apakah katarak bisa disembuhkan hanya dengan obat tetes mata?

Secara medis, belum ada obat tetes mata atau obat minum yang terbukti mampu menghilangkan kekeruhan lensa akibat katarak. Penanganan yang efektif untuk mengembalikan penglihatan akibat katarak adalah prosedur operasi penggantian lensa.

Apakah pemicu katarak hanya menyerang orang lanjut usia?

Tidak. Katarak lebih sering terjadi karena penuaan, tetapi usia muda atau produktif juga bisa mengalaminya. Faktor seperti cedera mata, diabetes tidak terkontrol, paparan radiasi UV, merokok, dan penggunaan obat tertentu dapat meningkatkan risiko.

Bagaimana cara mengetahui gejala awal katarak?

Gejala awal yang sering muncul antara lain penglihatan perlahan kabur seperti berkabut, mudah silau, warna tampak memudar, sulit melihat saat malam hari, atau sering perlu mengganti ukuran kacamata. Dalam aktivitas harian, gejala ini bisa terasa saat membaca tulisan kecil, melihat lampu kendaraan malam hari, atau beraktivitas di ruangan redup.

Referensi

World Health Organization. “Blindness and Vision Impairment.” World Health Organization, 10 Feb. 2026. Diakses 7 Jun. 2026.

World Health Organization. “One in Two People Facing Cataract Blindness Need Access to Life-Changing Surgery.” World Health Organization, 11 Feb. 2026. Diakses 6 Jun. 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Katarak Penyebab Terbanyak Gangguan Penglihatan di Indonesia.” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 12 Oct. 2021. Diakses 7 Jun. 2026.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. “Katarak: Penyakit Mata yang Sering Tidak Disadari Hingga Terlambat.” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 10 Oct. 2024. Diakses 8 Jun. 2026.

National Eye Institute. “Cataracts.” National Eye Institute, 26 Nov. 2025. Diakses 6 Jun. 2026.

Mayo Clinic. “Cataracts: Symptoms and Causes.” Mayo Clinic, 14 Mar. 2026. Diakses 6 Jun. 2026.